Petani Gaza Dihantui Serangan Herbisida dari Udara oleh Israel

Hampir setiap tahun drone Israel menaburkan herbisida dari udara yang menyebabkan kerusakan tanah dan kerugian besar bagi hasil pertanian Gaza. Bahkan Israel juga kerap mencoba membakar lahan pertanian Intisar, perempuan petani asal Gaza..

petani gaza
Ayesh Jum’a Al Najjar tengah memeriksa tanaman di kebun yang ia kelola di Gaza. (Middle East Eye)

ACTNews, GAZA – Menjadi petani adalah sebuah kebanggaan besar bagi Intisar Ayesh Jum’a Al Najjar. Perempuan berusia 51 tahun yang memiliki 11 anak itu sudah bercocok tanam semenjak masih muda dengan mendapat pendidikan langsung dari sang ayah di Jabalia, Palestina. Dia juga kerap mengikuti berbagai kursus untuk memperdalam pengetahuannya tentang bertani.

“Tidak ada perasaan yang lebih baik selain bisa menanam tumbuhan dengan tangan sendiri,” kata Intisar seperti dikutip dari kanal Youtube Middle East Eye yang dipublikasikan pada Selasa (1/6/2021).

Di awal, ia hanya menanam buah semangka dan blewah. Hasil panennya dipakai untuk kebutuhan keluarga serta dijual. Dahulu, Intisar mendapatkan banyak keuntungan besar dari sana. Namun lain hulu, lain parang. Lain dahulu, lain sekarang. Kian hari kian banyak tantangan dalam menjalankan pertanian di bawah penjajahan Israel. 

Sejak pemberlakuan blokade kota Gaza oleh Israel, hasil panennya tidak bisa dijual ke luar kota Gaza maupun negara lain. Pada saat yang sama, Intisar tidak bisa lagi mengimpor benih untuk masuk ke Gaza.

Hal yang memperparah, hampir setiap tahun drone Israel menaburkan herbisida dari udara yang menyebabkan kerusakan tanah dan kerugian besar bagi hasil pertanian Gaza. Bahkan Israel juga kerap mencoba membakar lahan pertanian Intisar.

“Kami menanam benih dan merawatnya sambil menunggu pertumbuhannya agar bisa dimakan anak-anak kami dan mencari keuntungan dengan menjualnya, tapi kemudian Israel menyemprotkan herbisida yang bisa merusak tanaman,” katanya.

Meski dalam kondisi yang serba sulit di bawah agresi Israel, Intisar tetap kukuh untuk mempertahankan lahan pertaniannya. 

“Ini sumber kehidupan kami. Kami tidak bisa hidup tanpa ini. Saya sudah bertani sejak muda dan berharap anak dan cucu saya juga belajar tentang bertani,” katanya lagi. []