Petani Jipang Rasakan Maslahat Lumbung Beras Wakaf

Menunggu panen tiba, biasanya petani menganggur. Beberapa di antaranya memilih untuk mencari penghasilan tambahan dari pekerjaan lain. Di Desa Jipang, para petani memilih ikut mengelola Lumbung Beras Wakaf (LBW) yang diinisiasi oleh Global Wakaf-Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Petani Jipang Rasakan Maslahat Lumbung Beras Wakaf' photo
LBW telah memberdayakan sekitar 40 petani maupun buruh tani yang berada di Desa Jipang. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BLORA - Tak terlihat petani sepanjang jalan menuju Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora pada Desember ini. Kebanyakan sawah masih menghijau, tanda panen masih menunggu hitungan bulan. Petani masih menunggu sawah-sawah mereka menguning.

Menunggu panen tiba, biasanya beberapa petani menganggur, beberapa di antaranya memilih untuk mencari penghasilan tambahan dari pekerjaan lain. Di Desa Jipang, para petani memilih ikut mengelola Lumbung Beras Wakaf (LBW) yang diinisiasi oleh Global Wakaf-Aksi Cepat Tanggap (ACT).

LBW telah memberdayakan setidaknya 40 petani maupun buruh tani yang berada di Desa Jipang. Ngadi selaku Penanggung Jawab LBW mengatakan, mayoritas warga Jipang memang bekerja sebagai buruh tani.

“Warga di Desa Jipang kira-kira ada 2.200 dan mayoritas dari mereka menggarap sawah milik orang lain. Kalau bisa diperkirakan, hampir dari setengah sawah-sawah yang ada di Desa Jipang ada di bawah pengelolaan pemerintah Desa Jipang,” kata Ngadi, Rabu (4/12) silam.

Beras-beras produksi LBW yang telah siap untuk didistribusikan. (ACTNews/Reza Mardhani)

Dalam satu hari, LBW bisa memproduksi hingga 10 ton beras jika beroperasi dalam satu kali pergantian jam kerja. Penyerapan masyarakat sekitar untuk produksi LBW, diapresiasi oleh Ngadi yang juga merupakan warga Desa Jipang.

“Dengan berdirinya LBW, jadi ada pertumbuhan ekonomi dan menambah income mereka. Karena di sela kegiatan bertani, petani bisa mengisi waktu kosong mereka. Sehingga, hadirnya LBW ini juga mengurangi pengangguran di sekitar LBW,” ungkap Ngadi.

Mbah Suki dan kedua anaknya, misalnya, warga Jipang yang bekerja di LBW. Selain bisa memanfatkan waktu luang dengan bekerja, Mbah Suki juga dapat memanfaatkan ampas dari LBW untuk ternak-ternak ayam miliknya.

“Senang dengan adanya LBW di sini karena kedua anak saya sekarang juga bekerja di LBW untuk memenuhi kebutuhan. Bekatul yang didapat dari sisa-sisa produksi LBW juga dapat saya manfaatkan untuk makanan ternak-ternak saya,” kata Mbah Suki.

Melihat warga lokal bisa terberdayakan, Ngadi berharap ke depannya LBW bisa semakin besar lagi ,sehingga bisa menyerap warga lebih banyak lagi. Dengan begitu, para penerima manfaat dari beras – yang mana merupakan warga prasejahtera – dan masyarakat yang memproduksinya sama-sama bisa lebih sejahtera dari sekarang.

“Semoga kita dapat menambah terus produktivitas kita. Kita ingin produksi lebih banyak lagi, sehingga bisa bermanfaat lebih luas lagi untuk masyarakat maupun penerima manfaat. Harapannya tahun ini kita bisa 20 ton, ke depannya bisa 50 ton atau bahkan seratus ton,” kata Ngadi. []


Bagikan