Petani Pegunungan yang Berharap Panen Kebahagiaan

Usia 69 tahun tak menghentikan Ade menggarap sawahnya, meskipun kini harus dibantu dengan tim. Ia berharap hasil panen bisa membahagiakan anak dan cucunya.

Ade sedang menggarap lahan.
Ade sedang membajak sawah menggunakan kerbau. (ACTNews)

ACTNews, PUWAKARTA – Terdengar kumandang azan zuhur saat Tim Global Wakaf – ACT tiba di rumah Ade, kakek dengan 6 cucu dan 4 cicit. Ia adalah seorang petani asal Desa Cihanjawar, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta. Usianya kini sudah genap 69 tahun dan itu bukan alasan menghambat semangatnya untuk tetap terjun ke sawah.

Saat ini ia menggarap lahan sawah seluas 8.000 meter persegi yang berada di sekitar rumahnya. Dalam pengelolaan budi daya, Ade dibantu oleh enam orang sebagai tim. Bukan sekadar tim, karena merekalah yang bertugas mulai dari membajak sawah, membersihkan lahan sawah, dan bantu saat masa panen tiba.

Membajak lahan sawah pun masih menggunakan cara tradisional, yakni menggunakan kerbau. Biaya sewa bajak menyentuh angka Rp120 ribu untuk satu hari. "Mau coba pakai traktor juga kondisi lahan di sini mah menurun, neng. Susah pindah-pindah traktornya juga," ungkap Ade, menjelaskan alasannya tidak berpindah pada teknologi pertanian yang ada saat ini.


Ade di tengah sawah yang hendak ia garap. (ACTNews)

Dahulu jika menunggu waktu panen, Ade aktif beternak. Namun saat usia semakin tua, tubuh gesitnya yang dulu aktif harus berhenti juga. "Mau bagaimana lagi, kalau dahulu iya biasa ternak. Sekarang mah ini sakit (menunjuk bagian perutnya), lambung. Nya liren (berhenti) weh neng, sekarang," cerita Ade yang sedang duduk di saung, pinggir lahan sawah garapannya pada pertengahan Desember silam.

Saat masa panen tiba, Ade mendapat bagian sekitar dua kuintal gabah yang merupakan bagi hasil antara pengelola lahan dan pemilik lahan. Dari hasil tersebut Ade menjual ke tengkulak. "Kalau gak ke tengkulak, hasil panen dikonsumsi sendiri aja dengan keluarga. Bersyukur karena bisa panen, bahagia lihat anak cucu ikut merasakan hasil panen saya," tutup Ade di akhir obrolan.


Dengan adanya dukungan dari Global Wakaf – ACT melalui program Wakaf Sawah Produktif, Ade berharap bisa terus bersemangat menjalankan usaha taninya dan bisa mengajak petani lainnya ikut dalam program ini. Karena banyak petani yang sudah menjual sawahnya kepada pengembang untuk dibangun vila. Mereka melakukan hal tersebut salah satunya karena semakin tidak menentunya masa depan pertanian karena minimnya dukungan dari pihak terkait.

Wakaf Sawah Produktif juga saat ini menjadi salah satu motor dari Gerakan Sedekah Pangan Nasional, yang bertujuan membentuk kedaulatan pangan negeri. Wakaf Sawah Produktif adalah hulu dari gerakan ini, sehingga selain memberdayakan petani sebagai produsen pangan, hasilnya juga dapat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. []