Petani Sigi Hadapi Lilitan Utang dan Rendahnya Harga Gabah

Melimpahnya panen serta lahan yang luas tak menjadi jaminan petani bisa sejahtera hidupnya. Permainan harga di tingkat tengkulak serta utang ketika memulai masa tanam menjadi ganjalan pahlawan pangan itu untuk bisa sejahtera.

Petani Sigi Hadapi Lilitan Utang dan Rendahnya Harga Gabah' photo
Bupati Sigi, Irwan Lapata didampingi Kepala Cabang ACT Sulteng, Nurmarjani Loulembah melihat proses tanam padi menggunakan teknologi Jarwo Super di Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (8/7). (ACTNews)

ACTNews, SIGI – Luas lahan serta melimpahnya panen tak selalu menjadi jaminan petani di Indonesia dapat sejahtera ekonominya. Berbagai kendala mereka hadapi, mulai dari harga jual gabah yang rendah, permainan harga tengkulak, hingga pendapatan panen yang harus digunakan untuk membayar utang yang sebelumnya dipakai guna modal pertanian.

Salah satu petani yang merasakan tak begitu berpengaruhnya panen pada ekonomi ialah Muhammad Irwan. Ia mengatakan, tiap kali panen, harga jualnya tak sesuai dengan harapan. Padahal, selama empat bulan musim tanam, Irwan telah melakukan perawatan tanamannya dengan baik dengan harapan ketika panen ia bisa meraup pendapatan.

“Selain harga yang murah karena permainan harga di tingkat tengkulak, petani juga ada keterikatan dengan penggilingan padi besar karena meminjam modal untuk tanam. Dengan begitu, tak sedikit petani yang ketika panen hanya bisa untuk membayar utang saja, tapi untuk kehidupan sehari-hari sangat sulit. Kesannya petani hanya gali dan tutup lubang hutang tiap kali tanam dan panen,” ungkap Irwan yang juga merupakan Ketua Kelompok Tani Harapan Jaya 2, Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Rabu (8/7). Irwan juga mengatakan dalam empat bulan terakhir harga padi di tingkat petani terus merosot akibat pandemi Covid-19.

Hal serupa juga dirasakan Nadra (43), petani di desa yang sama dengan Irwan. Ia mengatakan harga gabah di tingkat petani begitu rendah. Belum lagi berbagai potongan yang dirasakan petani akibat hutang yang dipinjamnya ketika masa tanam.  “Misalkan satu sak gabah dari penggilingan petani harusnya dapat 480 ribu (rupiah), tapi karena ada hutang jadinya hanya 325 ribu per sak. Dan ini yang dirasakan sama hampir semua petani di Desa Pakuli” ujar Nadra, Rabu (8/7).


Masyarakat Produsen Pangan Indonesia

Berbagai persoalan petani dan pertaniannya memang sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Harga gabah yang rendah hingga lilitan utang menjadi persoalan utama. Aksi Cepat Tanggap (ACT) sendiri memiliki program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI) yang kini terus meluaskan manfaatnya, termasuk bagi petani di Kabupaten Sigi.

Sebelumnya, petani di Lamongan dan Solo yang mendapatkan bantuan pertanian dari ACT. Kali ini giliran petani di Desa Pakuli Utara, Gumbasa, Sigi yang merasakan manfaatnya. Program MPPI di Sigi didukung Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi.

MPPI di Sigi saat ini menyasar 30 petani dari anggota Kelompok Tani Harapan Jaya 2 yang menggarap 25 hektare lahan sawah. Kepala Cabang ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah mengatakan, program MPPI di Sigi diharapkan mampu meningkatkan potensi pertanian. Nantinya, akan ada pendampingan untuk pemberdayaan serta penyaluran bantuan modal berupa pupuk serta obat hama untuk meningkatkan kualitas hasil panen.

“Selain di Sigi, secara nasional ACT juga akan terus menjangkau petani-petani lain di berbagai daerah, melepaskan jerat utang, meningkatkan kualitas panen serta harga jual menjadi tujuan utama demi sejahteranya petani yang menjadi pahlawan pangan kita bersama,” jelas Nurmarjani, Kamis (9/7).[]


Bagikan