Petuah Guru jadi Prinsip Ustaz Mamad Mengajar Tanpa Dibayar

“Harta milik kita sesungguhnya adalah yang diinfakkan kepada orang tidak mampu,” kata Ustaz Mamad, guru mengaji di Sukoharjo.

ustaz mamad
Ustaz Mamad (kiri) saat menerima bantuan paket pangan dan kehormatan dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, SUKOHARJO Hidup hanya sekali dan waktu di dunia itu singkat. Perbanyaklah berbuat baik. Nasihat inilah yang terus dipegang Ustaz Mamad dalam menjalani hidup secara sederhana di Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

Nasihat tersebut berasal dari guru Ustaz Mamad di pesantren. Dari petuah itu pula, pada tahun 1995, Ustaz Mamad mulai mengajar mengaji. Ia mengabdikan diri untuk masyarakat di sekitarnya tanpa dibayar. 

“Saya mengajar ngaji di masjid habis magrib. Saya merasa senang setiap melihat anak-anak bisa mengaji. Jadi mengajar pun juga senang, tidak beban,” ujar Ustaz Mamad saat ditemui tim ACT Solo Raya, Kamis (4/11/2021). 

Ardiyan Sapto Tamrin Nugroho dari tim ACT Solo Raya mengatakan, meski ekonomi Ustaz Mamad belum sejahtera, ia tidak sungkan membantu tetangga atau kerabat yang kurang mampu. Ustaz Mamad yakin, harta yang ia infakkan adalah yang menjadi miliknya nanti.

“Walau rumah sering bocor dan hidup pas-pasan, beliau masih saja ingin mengabdi tanpa meminta atau mengharapkan imbalan. Tidak berharap agar mendapat bantuan untuk direnovasi. Bahkan selalu menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu tetangga yang kesulitan,” ujar Ardiyan. 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ustaz Mamad berjualan makanan ringan yang dititipkan di warung-warung. Pendapatannya tidak menentu.

Untuk mendukung perjuangan Ustaz Mamad, Global Zakat-ACT memberikan bantuan kehormatan. Bantuan ini merupakan realisasi dukungan ACT terhadap Gerakan Sejahterakan Dai Indonesia yang dicetuskan Majelis Ulama indonesia (MUI).[]