Pinjaman Berbunga dari Bank Deprok Membuat Bang Bro Kapok

Demi merenovasi rumahnya yang hampir roboh, Abrohim atau yang dikenal sebagai Bang Bro mengajukan lima pinjaman ke rentenir. Tetapi belakangan pinjaman itu memberatkan penjual sayur ini, terutama ketika pandemi membuat jualannya jadi tidak seramai dahulu lagi.

Abrohim alias Bang Bro ketika bercerita di teras rumahnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BEKASI – Di depan teras rumahnya, Abrohim menunjukkan semua buku kreditnya yang belum usai. Totalnya ada lima buku. Saking banyaknya, ia lupa sudah berhutang berapa banyak kepada bank deprok, sebutan masyarakat Kampung Babakan, Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, untuk rentenir.

“Kalau jumlahnya sih, sudah lupa. Tapi kalau sisanya mungkin sekitar 40 minggu atau Rp7 jutaan lagi lah, kalau dihitung dengan bunganya,” ungkap Abrohim atau yang lebih akrab disapa Bang Bro oleh warga sekitar, ketika ditemui di rumahnya pada Jumat (28/8) lalu.

Bukan tanpa alasan, Bang Bro kala itu juga terdesak karena kondisi rumahnya masih terbuat dari anyaman bambu yang menurutnya terancam ambruk. Untuk memperbaikinya, ia butuh modal yang cukup besar. Sementara penghasilan sebagai pedagang sayur lapak, belum mencukupi.

“Pakai duit itu juga karena memang rumah saat itu mau roboh. Jadi saya terpaksa, asal jangan sampai kebocoran kalau hujan. Rumah yang waktu itu tiang kayu, pagar dan bilik bambu. Sampai genteng juga sempat jatuh sendiri,” ujar Bang Bro.


Setelah rumah dari anyaman bambu itu berganti dengan batako yang kokoh beberapa bulan lalu, Bang Bro bingung bagaimana cara melunasinya. Bahkan di minggu sebelumnya, ia menghabiskan sekitar Rp900 ribu untuk menutupi utang di bank deprok.

Sementara keuntungan Abrohim per harinya berkisar antara Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per hari. Keuntungan bersih itu ia dapatkan dari modal Rp2 juta per hari. Tetapi pada masa pandemi di mana kondisi pasar tempatnya berjualan sepi, otomatis pendapatan Bang Bro berkurang sampai hanya Rp60 ribu per harinya.

Kerja keras pun ia tempuh untuk melunasi utang-utangnya di tengah penghasilan yang tidak menentu. Selain menjual sayur yang ia beli dari para petani, Abrohim juga menyewa lahan milik orang lain di belakang rumah untuk ia tanami cabai, kacang panjang, dan terong agar barang jualannya semakin beragam. Bahkan Ustaz Agus, salah seorang tokoh masyarakat mengatakan, Bang Bro seringkali menggarap kebunnya di malam hari hingga subuh.

“Pokoknya Bang Bro ini petani terkenal yang malam-malam bertani juga. Ngebor, macul, nyempret (menyabit). Apalagi bulan puasa, habis tarawih ya, sudah langsung (ke ladang). Terus sampai subuh. Anaknya mau bangunin sahur, dia mah asyik nyempret (di ladang),” seloroh Ustaz Agus.


Bang Bro sedang memanem cabai di kebun belakang rumahnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

Setelah utangnya selesai nanti, Bang Bro mengaku tak ingin lagi meminjam kepada bank deprok. Ia mengaku kapok karena segala tagihan yang tiba ternyata cukup memberatkannya. Kalau memiliki uang lagi, ia ingin menambah modal berjualan untuknya atau memberikan modal itu untuk istrinya agar istrinya bisa berjualan kecil-kecilan. “Inginnya sih begitu (utang selesai), pengen banget ngaso udah,” ungkap Bang Bro.

Berikhtiar mendukung usaha petani dalam menyediakan pangan, Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi program Wakaf Modal Usaha Mikro. Program ini bertujuan untuk membebaskan pelaku usaha mikro dari jeratan utang dan riba agar proes produksi serta transaksi jual-beli lebih berkah. Pelaku usaha mikro meliputi produsen pangan di hulu maupun pedagang kecil di hilir.

Dengan dasar sistem Qadhr al-Hasan, Wakaf Modal Usaha Mikro memiliki peran dalam membangun komitmen para pelaku usaha penerima modal, sehingga para penerima manfaat senantiasa bertekad dalam membangun bisnisnya untuk lebih maju dan berkembang. Pemberdayaan menjadi hal mendasar demi mendorong turunnya angka kemiskinan.  

“Harapannya dengan adanya instrumen ini, masyarakat bisa mengembangkan usahanya lebih maju lagi di masa sulit ini. Selain itu, mereka mulai beralih dan tidak lagi berutang kepada bank deprok tadi. Jadi dampak-dampak bunga yang memberatkan bisa kita minimalisir,” tutur Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT.

Wahyu pun berharap, para dermawan dapat berpartisipasi dalam program ini sehingga para pelaku usaha kecil seperti yang ada di Kampung Babakan bisa menjalankan usahanya dengan lebih lancar dan tentunya lebih berkah. ”Kami berencana untuk membantu para pelaku usaha di Kampung Babakan, dan sekaligus mengajak juga kepada para dermawan untuk membantu para pelaku usaha yang saat ini sedang kesulitan karena kendala permodalan. Melalui bantuan para dermawan sekalian di program Wakaf Modal Usaha MIkro, mudah-mudahan kita bisa membantu meringankan beban mereka,” harap Wahyu. []