Posko ACT Sulteng Bertambah, Jangkau Lebih Banyak Pengungsi

Posko ACT Sulteng Bertambah, Jangkau Lebih Banyak Pengungsi

ACTNews, PALU - Lebih dari 10 hari sudah pascabencana gempa, tsunami, juga likuefaksi melanda Palu, Donggala, hingga Sigi. Jumlah korban menurut Badan Nasional Penggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 8 Oktober berada di angka 1.944 orang. Korban meninggal dunia diakibatkan tertimbun bangunan, tergulung ombak tsunami dan terhisap lumpur likuefaksi pada Jumat (28/9).

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak hari pertama pascagempa telah mengirimkan sejumlah relawan untuk melakukan evakuasi. Selain itu, hingga kini ACT telah mendirikan lima posko wilayah untuk memudahkan distribusi bantuan logistik dan pelayanan kesehatan. Lima posko tersebar di Palu, Donggala, Sigi, hingga Parigi Moutong. “Hari ini akan ada posko wilayah Parigi Moutong, jadi ada penambahan menjadi enam posko,” kata Direktur Global Humanity Response (GHR) ACT Bambang Triyono, Selasa (9/10).

 

Di Palu, posko berada di Palu Barat dan Timur. Wilayah Donggala juga terdapat dua posko, sedangkan Kabupaten Sigi terdapat satu posko yang berada di Pesantren Madinatul Ilmi Desa Kota Rindau, Dolo. Semua posko ini tak hanya sebagai tempat awal pendistribusian logistik bantuan, tapi juga dijadikan sebagai posko medis. “Posko medis menempel dengan posko wilayah,” kata dr. Muhammad Riedha, bagian dari Tim Medis ACT untuk bencana Sulawesi Tengah.

Bambang selanjutnya mengatakan, pekan ini target 8 posko akan didirikan. Masing-masing posko akan dioptimalkan untuk pendataan dan peninjuauan data korban dan wilayah yang terdampak bencana di Tanah Celebes . Posko untuk wilayah Donggala akan segera ditambah guna memaksimalkan proses evakuasi, pendistribusian logistik, hingga pemulihan. “Cakupan aksi wilayah Donggala cukup luas, perlu 3 posko,” tambah Bambang.

 

Posko kemanusiaan ACT tidak hanya mengatur proses pendistribusian logistik di wilayah terdampak. Dapur Umum juga didirikan berdekatan dengan lokasi posko untuk mengolah makanan siap santap, yang dibagikan kepada pengungsi. Selain itu, tim di masing-masing posko ACT juga akan melakukan pendataan guna persiapan masa pemulihan.

Bantuan terus datang

Senin (8/10) pagi, bantuan logistik telah kembali berangkat melalui jalur darat dari Sidenreng Rappang untuk korban gempa di Sulteng. Bantuan dengan berat 300 ton ini akan didistribusikan ke wilayah terdampak. “Masing-masing posko tengah merencanakan pendistribusian,” kata Bambang.

 

 Untuk pembagian bantuan ini, tambah Bambang, tim ACT akan melakukan peninjauan ke tempat pengungsi berada. Cara ini dilakukan guna mengetahui keadaan pengungsi dan kebutuhan yang paling diperlukan. Setelah itu, pengiriman barang bantuan akan dilakukan dari posko wilayah terdekat pengungsi. “Tapi ada juga pengungsi yang datang dan mengambil langsung bantuan ke posko kami,” ungkapnya.

Selain dikirim dari Kabupaten Sidenreng Rappang dan Makassar, Sulsel, logistik juga datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Seribu ton bantuan pangan dan logistik telah dilayarkan Kapal Kemanusiaan pada Senin (8/10) lalu dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Seluruhnya dihimpun dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa, seperti Blora, Ngawi, Bojonegoro, Solo, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya.

 

Ahad (15/10) mendatang, Kapal Kemanusiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala akan diberangkatkan kembali dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kapal akan membawa ribuan ton pangan dan logistik tambahan, amanah kepedulian masyarakat Indonesia. []