Potret Bahagia Buruh Tani di Cibarusah Nikmati Daging Kurban

Iling (65), buruh tani di Kampung Cigoong, Kabupaten Bekasi, amat bahagia mendapatkan daging kurban Ia mengaku jarang makan daging karena pendapatannya yang seringkali belum mencukupi.

Iling mengaku bahagia ketika ia menerima daging kurban dari Global Qurban - ACT pada Iduladha tahun ini. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

ACTNews, KABUPATEN BEKASI – Hampir empat puluh tahun sudah Iling (65) menjadi buruh tani di Kampung Cigoong, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Iling mengelola sebuah sawah berukuran sekitar 4.000 meter persegi. Hasil dari bercocok tanam tersebut kemudian ia jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, berkeliling kampung menggunakan gerobak roda duanya.

Iling duduk di tepi sawah. Kedua tangannya sibuk memilah daun serai yang baru saja ia cabut dari lahan kelolaannya ketika tim Global Qurban – ACT Bekasi mendatanginya untuk memberikan daging kurban dari para dermawan. Raut lelah yang tergambar di wajahnya seolah tertutupi dengan rasa antusiasnya menyambut tim sore itu. Iling merupakan satu di antara 100 penerima manfaat daging kurban yang didistribusikan Global Qurban – ACT Bekasi di wilayah tersebut.

Ia mengaku sangat bersyukur dan berbahagia dapat menerima daging kurban yang sangat jarang dikonsumsi sehari-hari. “Alhamdulillah senang bisa dapat daging. Engkong jarang makan daging, soalnya enggak cukup (pendapatan) sehari-hari buat beli daging,” ujar Iling kepada ACTNews, Sabtu (1/8).


Daging kurban yang didistribusikan oleh tim Global Qurban - ACT Bekasi kepada masyarakat prasejahtera di Bekasi. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

Iling mengungkapkan, sehari-hari penghasilannya dari berjualan sayuran hanya berkisar Rp30  ribu hingga Rp40 ribu. Ia pun mengaku penghasilan tersebut terbilang pas-pasan atau bahkan kurang mencukupi kebutuhan makan harian keluarganya.

“Keuntungan sehari-hari timbang Rp30 ribu, paling banyak Rp40 ribu. Makan sendiri saja enggak cukup. Kalau lagi keuntungan sedikit, makan saja yang ada di kebon. Kalau ada singkong, ya singkong direbus,” kata Iling.

Meski pendapatan pas-pasan, Iling tetap berusaha menghindari meminta-minta. Ia tetap berusaha semaksimal mungkin agar dapat bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil keringatnya sendiri.


“Kita enggak mau minta-minta sama orang. Biarpun kita enggak punya, mending kita pinjam kalau mendesak dan mending enggak makan biar satu hari daripada minta,” ujar Iling.

Setiap hari, Iling memulai aktivitasnya setiap pagi di rumah gubuknya yang terletak di pinggir sawah. Rumah tersebut pun bisa dikatakan jauh dari kata layak, sebab tidak tersedianya aliran listrik dan juga sarana MCK (mandi, cuci, kakus).

“Kalau mau mandi atau mengambil air di sumur umum, kalau malam pakai lilin saja,” tambahnya.

Selain buruh tani dan pekerja serabutan, masyarakat prasejahtera yang mendapat daging kurban di Kampung Cigoong sebagian besar merupakan lansia, yatim, dan warga prasejahtera. Penantian warga menunggu kurban selama sekira tiga tahun terakhir ini akhirnya terbayarkan.

“Alhamdulillah warga kami sangat senang, berterima kasih kepada Global Qurban – ACT karena selama ini tempat kami kurban itu sedikit, kalaupun ada ya domba. Sapi itu hampir tiga tahun yang lalu. Alhamdulillah sekarang baru ada lagi,” ujar Ketua RT 03 RW 01 Desa Sirnajati, Pelangi Ika (35).

Sedikitnya kurban yang ada bukan tanpa sebab. Ika mengaku, tingkat ekonomi jadi faktor mendasar yang memengaruhi hal tersebut. Itu disebabkan karena hampir sebagian besar warga setempat berprofesi sebagai buruh tani dan pekerja harian lepas.

“Memang faktor ekonomi juga. Sebab warga di sini sebagian besar petani dan buruh harian lepas. Karyawan swasta ada tapi sedikit, kira-kira 20 persen saja. Makanya dengan adanya kurban ini bisa bikin mereka bahagia,” pungkas Ika. []