Potret Desa Teluk yang Terhempas Tsunami

Potret Desa Teluk yang Terhempas Tsunami

ACTNews, PANDEGLANG - Ceruk terlihat jelas dari citra satelit yang menunjuk ke Desa Teluk di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten. Sama dengan namanya, desa ini memiliki tepi pantai yang menjorok ke dataran. Cekungan daratan menghadap agak ke selatan, deretan beberapa pulau kecil terlihat jelas.

Ketika petang menjelang, matahari tenggelam menyemburatkan sinarnya ke tepi pantai Desa Teluk. Langit jingga biasa menjadi latar berlayarnya perahu-perahu nelayan dengan tiang dan bendera yang berkibar tertiup angin di atasnya. Keindahan ini menjadi penutup hari khas Desa Teluk, setidaknya hingga lebih dari sepekan lalu.

Setelah disapu tsunami di sepanjang Selat Sunda, desa yang dikenal dengan tempat pelelangan ikannya ini porak-poranda. Tak kurang dari 30 rumah hancur dan tak dapat kembali ditempati pemiliknya.

 

“Dua orang meninggal dunia di sini, seorang ibu dan anaknya,” tutur Ading, warga Desa Teluk di sela pendistribusian bantuan pangan oleh ACT pada Ahad (30/12).

Sore itu, Ading datang ke Teluk untuk melihat kondisi rumah miliknya. Kini ia dan keluarganya mengungsi di kediaman kerabat di Kecamatan Jiput, Pandeglang. “Ke sini mau liat keadaan rumah, takut ada yang hilang. Walau rumah tidak roboh seperti tetangga yang lain, tapi semua perabotan rusak terendam air tsunami yang sampai masuk ke rumah saya,” ungkapnya sambil menunjukkan posisi rumahnya.

Di sisi utara deretan rumah roboh, terdapat sebuah kapal nelayan yang ukurannya cukup besar. Kapal itu naik ke daratan seolah bersandar setelah semalaman berlayar. Namun tidak, kapal itu naik ke darat terdorong derasnya air tsunami. Kapal nelayan tersebut teronggok bersama tumpukan puing bangunan.

 

Dari kejauhan terlihat kapal masih utuh keadaanya. Tapi jika diperjelas dengan mendekat akan terlihat beberapa sisi dan lambung kapal yang pecah, terlihat lubang menganga. Pun dengan beberapa kapal kecil yang menjadi puing berserakan di sepanjang tepi pantai Desa Teluk.

Karyadi, seorang nelayan yang juga warga Desa Teluk mengatakan, sebagian besar pekerjaan warga di sana merupakan nelayan. Bahkan di sebelah tempat kapal besar yang naik ke darat terbawa tsunami itu merupakan tempat pembuatan kapal. “Habis tsunami itu nelayan masih takut melaut, masih trauma bahkan belum pada berani membereskan sisa bangunan yang roboh ini,” ungkapnya, Ahad (30/12).

Dahulu, Karyadi menuturkan, tidak ada warga yang bermukim tepat di tepi pantai Desa Teluk. Paling tidak ada jarak antara pemukiman dengan pantai yang dibatasi dengan kebun kelapa. Namun, setelah adanya betonisasi teluk, pemukiman warga pun semakin mendekat ke pantai hingga seperti sekarang ini.

 

Kini, perekonomian Teluk masih lumpuh. Tak ada aktivitas berarti di tempat pelelangan ikan. “Belum tahu kapan saya dan keluarga juga warga lain kembali ke sini (Desa Teluk). Masih takut, trauma tsunami dadakan,” ujar Karyadi.

Guna menopang keperluan warga yang masih bertahan di Desa Teluk, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendirikan dua posko dapur umum. Dapur umum ini tiap harinya memproduksi 260 porsi yang kemudian dibagikan kepada warga sekitar. Nasi hangat dan lauk berupa daging dan sayuran menjadi menu warga setiap harinya. []