Potret Ekonomi Guru Honorer di Negeri ini

Belasan hingga puluhan tahun mengabdi tak menjadi jaminan guru honorer di Indonesia sejahtera ekonominya. Padahal, peran mereka sangat besar, yaitu mencetak generasi muda penerus bangsa.

Dwi, guru di salah satu SDN di Malang sedang mengumpulkan sampah di permukiman di Malang, Jawa Timur. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JENEPONTO, SOPPENG  Namanya Satinja (59), seorang guru mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran Nurul Iman, Dusun Bonto Te’ne, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto. Sudah bertahun-tahun ia menjadi janda tanpa anak dan tinggal di sebuah rumah seorang diri. Selama mengajar, Satinja diberi gaji Rp200 ribu per bulan dan dirapel tiga bulan. Jumlah yang cukup rendah di tengah kebutuhan hidup yang saat ini semakin meningkat.

Meningkatnya kebutuhan hidup, terlebih dengan adanya pandemi, juga dirasakan guru-guru dengan gaji rendah. Masih di Jeneponto, selain Satinja, guru dengan gaji hanya hitungan ratusan ribu adalahNurbaeti. Pendapatan guru di salah satu sekolah di Dusun Panno, Kecamatan Rumbia itu menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Suami Nurbaeti hanya bekerja sebagai buruh tani musiman dengan pendapatan yang tak menentu.

“Uang yang didapat memang tidak seberapa, tapi saya bersyukur dan senang bisa melihat anak-anak masih terus bersekolah,” ungkapnya, Senin (5/10).

Serupa Satinja dan Nurbaeti, Suriani, guru di SDN 87 Appasareng, Soppeng pun harus merasakan upah sebagai guru yang rendah. Sudah 13 tahun ia mengabdikan dirinya sebagai guru dengan status masih honorer. Gajinya hanya Rp100 ribu per bulannya. Bersama sang suami yang bekerja sebagai petani, Suriani harus menghidupi 3 orang anak. Beberapa tahun lalu rumahnya sempat terbakar, ini menjadi ujian berat baginya, terlebih mengingat kondisi ekonomi keluarga. Walau begitu, Suriani tak pernah memikirkan ekonominya kala mengajar. Ia bertanggung jawab penuh dan sangat senang dengan profesi yang selalu ia banggakan.

Tiga guru di atas merupakan sedikit dari banyaknya pendidik di negeri ini yang kondisi ekonominya masih prasejahtera. Tak hanya di desa, kondisi serupa juga dirasakan sejumlah guru honorer di perkotaan.

Global Zakat-ACT sejak setahun ini terus menyalurkan bantuan biaya hidup untuk para guru prasejahtera lewat program Sahabat Guru Indonesia. Dana yang tersalurkan berasal dari zakat mal masyarakat. Menjelang satu tahun berjalan, program ini telah memberikan biaya hidup, paket pangan, serta pendampingan ke lebih dari 4 ribu guru. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan terus dilakukannya implementasi aksi kebaikan ini.

Riski Andriana, Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia mengatakan, target implementasi aksi kebaikan ini merupakan guru-guru honorer, prasejahtera, bergaji rendah di berbagai pelosok negeri. Harapannya, dengan hadirnya program ini dapat menjadi penyemangat bagi guru untuk terus menjalankan profesi baik tersebut.

“Hadirnya biaya hidup untuk guru tak lepas dari peran masyarakat yang menyalurkannya melalui Global Zakat,” jelas Riski, Jumat (9/10).

Riski menambahkan, program Sahabat Guru Indonesia akan terus berlangsung, untuk itu peran serta muzaki sangat besar. Masyarakat yang ingin menyalurkan zakatnya pun masih sangat terbuka, khususnya zakat mal sebagai “pembersih harta”. Global Zakat sendiri telah menghadirkan kemudahan perhitungan zakat lewat aplikasi di laman resmi, atau bagi muzaki yang telah mengatahui jumlah zakatnya bisa mengakses laman Indonesia Dermawan.[]