Potret Guru Honorer di Bekasi yang Jadi Tumpuan Pendidikan

Tak peduli dengan pendapatan yang masih di bawah UMR, sejumlah guru honoroer di Bekasi masihberikhtiar penuh untuk memajukan pendidikan anak bangsa.

Muftahani Syarif bersama para guru dari MI At-Taqwa 62 Kabupaten Bekasi yang menerima bantuan biaya hidup guru dari program Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

ACTNews, BEKASI – Guru senantiasa menjadi tulang punggung pendidikan. Jasa para guru honorer tersebut terbilang besar, mereka menjadi tumpuan pendidikan dalam mencerdaskan anak-anak bangsa. 

Namun demikian, sudah menjadi rahasia umum peran besar tersebut tidak diiringi oleh tingkat kesejahteraan para guru honorer yang rata-rata masih rendah. Fetty Lisnawati, guru honorer di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 15 Kota Bekasi misalnya. Bertahun-tahun mengabdi, sebulan ia mengantongi pendapatan jauh di bawah angka minimum upah pekerja di Kota Bekasi sebesar Rp4,5 jutaan di awal tahun 2020, yang tahun depan akan mengalami kenaikan menjadi Rp4,7 jutaan. 

Fetty mengaku, gaji yang ia terima hampir habis untuk kebutuhan keluarga dan transportasi sehari-hari. Ia harus berhemat serta menjalani usaha sampingan seperti menjual makanan olahan atau frozen food di sela kegiatan mengajarnya agar kondisi keuangan tidak seret

Meski bukan ukuran ideal untuk membiayai hidupnya dan satu orang anaknya di kota besar seperti Bekasi, Fetty tetap bersyukur dengan apa yang ia terima. Semua peran dengan tulus ia lakukan untuk dunia pendidikan dan keluarga yang ia cintai. 

“Alhamdulillah saya bersyukur karena masih bisa ngajar dan mencari tambahan lewat usaha jual frozen food. Memang suami sudah 12 tahun meninggal karena strok. Sekarang anak yang harus dibiayai tinggal satu orang yang masih kuliah, dua orang kakaknya sudah menikah,” ujar Fetty. 

Demi menguatkan perjuangan Fetty untuk dunia pendidikan dan perjuangan menafkahi keluarganya sebagai orang tua tunggal, Global Zakat - ACT Bekasi menyalurkan bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia.

“Alhamdulillah terima kasih Global Zakat - ACT atas bantuannya. Selain bisa untuk sehari-hari, bantuan ini juga bisa saya gunakan untuk memutar usaha sampingan supaya bisa terus berkembang, jadi bisa kasih uang saku juga ke anak saya,” tutur Fetty. 

Nasib tak jauh berbeda dialami oleh Muftahani Syarif, guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) At-Taqwa 62 Kabupaten Bekasi. Syarif akrab ia disapa, bahkan jauh lebih miris. Ia sudah mengabdi di dunia pendidikan selama puluhan tahun. Namun, kesejahteraannya tak banyak mengalami perubahan.

Syarif menerima upah hanya Rp300 ribu per bulan. Namun kadang kala upahnya dibayarkan dua sampai tiga bulan sekali. Guru asli Bekasi tersebut sudah lama memupuk cita sebagai pendidik. Untuk itu, meski upahnya jauh dari kata layak, tekad dan niat tulusnya untuk mengabdi di dunia pendidikan dan dakwah tidak berubah. 

“Lewat dunia pendidikan, saya hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Untuk menambah sampingan, saya buka warung kecil-kecilan. Semoga apa yang saya lakukan bermanfaat dan berkah. Terima kasih Global Zakat-ACT atas bantuan biaya hidup Sahabat Guru Indonesia ini,” kata Syarif.

Sama seperti Fetty, Syarif juga menjadi salah satu sasaran dari penyaluran bantuan biaya hidup guru lewat program Sahabat Guru Indonesia. Ihsan Hafizhan dari Tim Program Global Zakat - ACT Bekasi mengatakan, program tersebut diharapkan dapat meringankan beban ekonomi masing-masing keluarga. Global Zakat – ACT Bekasi terus membuka kesempatan publik dan juga mitra institusi untuk menjadi bagian dari pendampingan para guru prasejahtera dengan zakat terbaik yang disalurkan melalui Global Zakat - ACT Bekasi. 

“Sahabat dermawan bisa menyalurkannya melalui laman Indonesia Dermawan atau langsung ke kantor cabang kami di Bekasi Town Square, Blok A No. 12, Margahayu, Bekasi Timur,” ujar Ihsan.[]