Potret Pemulihan Nelayan Pascabencana Tsunami Selat Sunda

Lebih dari tujuh bulan pemulihan pascabencana tsunami Selat Sunda berlangsung. Beberapa kapal yang diproduksi ACT sudah jadi, dan telah dimanfaatkan sejumlah nelayan untuk melaut.

Potret Pemulihan Nelayan Pascabencana Tsunami Selat Sunda' photo

ACTNews, PADEGLANG Debu hasil pemotongan kayu berterbangan ketika kami, timAksi Cepat Tanggap (ACT), singgah di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Kamis (1/8) sore. Kotoran itu berasal dari proses perbaikan kapal di Sungai Cipunten Agung yang melintang di Labuan. Sungai itu juga menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan yang jumlahnya ratusan setelah semalaman berlayar mencari ikan di lautan.

Kami sampai di tepian Sungai Cipunten Agung sekitar pukul 15.30 WIB. Di waktu itu banyak lalu lalang kapal keluar-masuk hilir sungai. Sebagian mereka hendak pulang ke rumahnya setelah seharian berlayar. Tak sedikit pula kapal yang baru berangkat melaut. Mereka bakal mencari ikan semalaman dan baru akan pulang ketika fajar menjelang. Bahkan, ada pula di antara mereka, yang menggunakan kapal berukuran besar, baru akan bersandar di Labuan kembali pada lima hari selanjutnya.

Salah satu kapal yang berangkat melaut sore itu ialah Kapal Motor Bunga Rampa. Cat hijau-putih mendominasi. “Berangkat dulu ya, ini pakai kapal yang dibuatkan ACT. Mau ikut?” tawar awak kapal kepada kami. Mereka sadar ada tim ACT yang bekunjung, terlihat dari rompi yang dikenakan. Lalu-lalang kapal yang padat membuat kapal yang hendak keluar-masuk tak diperbolehkan berhenti.


Setelah menyapa beberapa nelayan yang hendak melaut, kami menepi ke pinggiran sungai. Di sana, puing sisa bangunan hancur yang diterjang tsunami akhir Desember 2018 lalu masih dapat terlihat. Sebagian bangunan masih dibiarkan oleh pemiliknya, belum direnovasi akibat keterbatasan dana.

Di tepian sungai itu juga, permukiman para nelayan berdiri. Bengkel perbaikan dan pembuatan kapal juga tersedia. Salah satunya ada kapal yang sudah setengah jadi. Bentuknya masih kerangka, namun sudah terlihat rusuk untuk lambung kapal. “Ini kapal kayu ketiga yang ACT buat untuk nelayan di Labuan,” jelas Jaja dari tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Pandeglang yang mendampingi kami.

Sore itu, sudah tak ada lagi kesibukan di kapal yang sedang ACT buat untuk nelayan Labuan itu. Hanya ada Masdi, penerima manfaat kapal, yang sedang membersihkan kerangka kapal itu dari sisa pekerjaan yang telah dilakukan seharian. Saat ini pengerjaan kapal sudah masuk 22 hari dan sekitar 45 persen telah selesai.

Masdi menyebut, pengerjaan kapal ini termasuk cepat. Ketersediaan bahan serta kontrol yang rutin dari tim ACT membuat pekerjaan rampung dengan baik. “Kapal ini dikerjaan dengan cepat, namun tetap teliti. Semakin cepat untuk kami (keluarga penerima manfaat) dapat memanfaatkan kapalnya untuk melaut,” ungkapnya.

Kapal kayu yang dikerjakan di tepian Sungai Cipunten Agung tersebut merupakan kapal yang ketiga. Dua kapal sebelumnya telah berlayar sejak beberapa bulan lalu. Pengadaan kapal ini merupakan hasil program ACT untuk pemulihan ekonomi masyarakat pascatsunami Selat Sunda 2018 silam.


Satu kapal yang diberikan, dikelola oleh satu kelompok nelayan yang terdiri dari 3 hingga 5 kepala keluarga. Aropik, salah satu penerima kapal, menuturkan, ia dan empat kepala keluarga lainnya kini sudah mulai meniti kembali perekonomian keluarga yang sempat hancur setelah bencana datang. Kelompok nelayan Aropik mulai menggunakan kapal dari ACT sejak sepekan sebelum Idulfitri lalu.

“Kapal ini buat cari ikan atau cumi, tergantung musim sih. Tapi yang jelas, kapal ini sangat membantu perekonomian kelompok kami,” ungkap Aropik kepada ACT, Kamis kemarin.

Sampai hari ini, pengerjaan kapal terus dilakukan. Nelayan Labuan diharapkan dapat segera pulih dan bangkit pascatsunami yang merusak setidaknya 400 kapal nelayan di Labuan. []

Bagikan