Praktik Peruntukan Zakat Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Zakat di masa Umar bin Abdul Aziz diperuntukan bagi orang pikun dan lumpuh yang sudah tidak mampu bekerja. Selain itu untuk musafir yang kehabisan bekal, orang-orang yang berutang, dan memerdekakan budak muslim.

praktik peruntukan zakat
Ilustrasi. Distribusi zakat oleh Global Zakat-ACT di Kepulauan Anambas 2019 lalu. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Umar bin Abdul Aziz merupakan pemimpin pilihan. Ia adalah seorang yang sederhana, egaliter, tawadu, sabar, adil, dan yang terpenting pembela kaum duafa. Keberpihakannya kepada kaum duafa ditunjukkan dengan selalu mengutamakan kaum duafa sebagai penerima zakat. 

Dalam buku Panduan Zakat Kementerian Agama (Kemenag), mengutip Ibnu Hajar dan Imam al-Rafi bahwa zakat umat Islam Dinasti Bani Umayah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz diperuntukan bagi mereka yang sudah pikun dan orang-orang lumpuh. Selain itu, juga untuk orang-orang miskin yang berpenyakit yang tidak mampu bekerja, lalu si miskin yang meminta-minta dan membutuhkan makanan.

“Sehingga terpenuhi kebutuhan mereka dan sesudahnya tidak meminta-minta lagi,” tulis Kemenag. 

Zakat kala itu juga diprioritaskan bagi para tahanan Islam yang tidak memiliki keluarga. Juga umat Islam yang sama sekali  tidak memiliki pekerjaan, rumah, dan terlunta-Iunta di jalanan.

Imam al-Zuhri seorang ahli hadis di masa Umar bin Abdul Aziz juga memerintahkan Umar agar mendistribusikan zakat kepada fakir miskin yang memiliki utang. Juga kepada para musafir yang tidak memiliki keluarga dan kehabisan bekal. 

“(Zakat diberikan) sampai ia (musafir) mendapatkan tempat tinggal yang layak,” lanjut keterangan Kemenag. 

Keberhasilan pengelolaan zakat di masa Umar bin Abdul Aziz dibuktikan saat amil zakat dari Afrika mengadu kepada Umar bahwa baitul mal mereka penuh dengan harta zakat. Lalu Umar memerintahkan zakat digunakan untuk membayarkan utang orang-orang, yang memiliki utang. 

Setelah hal itu (membayar utang orang yang memiliki utang) dilakukan, ternyata baitul mal  masih juga penuh dengan harta zakat. Akhirnya mereka pun (amil dari Afrika) kembali melapor kepada Umar, lalu kata Umar “...belliah budak-budak muslim, lalu memerdekakan mereka”.[]