Problem Pangan hingga Kesehatan Selimuti Krisis Kemanusiaan Pengungsi Afghanistan

Jumlah pengungsi dan kasus kerawanan pangan terus melonjak sepanjang tahun 2021 di Afghanistan. Kini, 14 juta penduduk harus menghadapi tingkat darurat kerawanan pangan.

krisis kemanusiaan afghanistan
Potret anak-anak pengungsi Afganistan. (UNHCR/Roger Arnold)

ACTNews, Afganistan – Afganistan merupakan negara multietnis yang terletak di jantung Asia selatan-tengah. Terletak di sepanjang rute perdagangan penting yang menghubungkan Asia selatan, timur ke Eropa, dan negara-negara Timur Tengah, membuat Afganistan menjadi lokasi strategis.

Namun, Afganistan kini harus menghadapi krisis kemanusiaan imbas dari konflik. Berdasarkan data yang dihimpun Global Humanity Response ACT, lebih dari setengah juta warga Afganistan menjadi pengungsi internal di tahun 2021,  yang mana mayoritas dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Konflik berkepanjangan yang terjadi juga menjadi faktor utama angka kemiskinan di Afganistan meningkat. Pada 2021, 72 persen penduduk Afganistan dilaporkan berasal dari keluarga prasejahtera. Banyak keluarga tidak memiliki anggaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Afganistan juga kerap dilanda kekeringan yang membuat sektor pertanian sering kesulitan. Berdasarkan data Program Pangan Dunia (WFP), produksi gandum Afganistan turun menjadi 31 persen dibandingkan tahun 2020. Musim paceklik berikutnya pun diperkirakan akan lebih intens dan tiba lebih awal. Menjadikan Afganistan sebagai negara dengan jumlah penduduk tertinggi kedua dalam kerawanan pangan darurat di dunia.

Menurut laporan Analisis Kerawanan Pangan Akut (IPC), 14 juta warga Afganistan saat ini tengah menghadapi tingkat darurat dan krisis kerawanan pangan. Tingkat kegawatdaruratan gizi buruk juga menyebar di 27 provinsi. 10 di antaranya menghadapi situasi kritis. IPC melaporkan pula, satu dari dua balita di Afganistan menderita kekurangan gizi akut yang parah.

Hal ini pun diperparah dengan pelayanan kesehatan yang sangat minim. Proporsi utama layanan medis terkonsentrasi di Kabul, dan banyak daerah pedesaan tidak memiliki rumah sakit atau dokter.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response ACT menjelaskan, ACT pada 2021 pernah datang untuk membantu para pengungsi di sana. Tepatnya saat bulan Ramadan lalu. Tim dan relawan ACT mendistribusikan paket Iftar di sejumlah daerah di Provinsi Faryab. Sebanyak 1.636 paket iftar dibagikan untuk pengungsi berbuka puasa.

"Para pengungsi saat ini sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan sesegera mungkin. Khusus di bidang pangan. Sebab, kelaparan kemungkinan juga akan semakin parah karena sebentar lagi Afganistan akan memasuki musim dingin. Namun, tak bisa ditampik bahwa kondisi saat ini masih tidak pasti terkait kemungkinan pengiriman bantuan ke sana. Jika kondisi sudah membaik di sana, dan banyak sedekah dermawan yang masuk, bukan tidak mungkin implementasi bantuan bisa dilakukan," pungkas Said. []