Program BERISI Jangkau Pesantren Kemanusiaan SPMAA Lamongan

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren SPMAA memiliki berbagai layanan, seperti layanan konseling untuk korban KDRT dan layanan untuk para lansia.

Program BERISI Jangkau Pesantren Kemanusiaan SPMAA Lamongan' photo
Pertunjukan seni dari santri SPMAA di lingkungan sekolah yang menyatu dengan alam. (ACTNews/M. Romadhoni)

ACTNews, LAMONGAN - Dari luar, tak ada yang berbeda dengan suasana Pondok Pesantren Sumber Pembinaan Mental Agama Allah (SPMAA) dengan pesantren lainnya. Namun, ketika menelusuri lebih dalam, sisi kemanusiaan nampak menggerakkan seluruh aktivitas pesantren yang didirikan oleh K. H M. Muchtar pada 1961 ini.

Berbeda dengan pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren SPMAA memiliki berbagai layanan, seperti layanan konseling untuk korban KDRT dan layanan untuk para lansia. Hal ini mengingat beragamnya latar belakang santri yang menuntut ilmu di sana. Ada santri yang dengan sendirinya memang ingin belajar di pesantren, ada yang dititipkan keluarganya, ada juga yang dikirim oleh Dinas Sosial untuk dibina. Selain itu, SPMAA juga merawat bayi yang umumnya berusia dua tahun ke bawah, lansia berkebutuhan, dan orang yang menderita sakit jiwa. 

SPMAA juga memiliki konsep sekolah berbasis dunia akhirat. Setiap santri tidak hanya dikenalkan keilmuan dari sekolah formal, tetapi juga ilmu agama yang digunakan sebagai bekal untuk mengabdi pada masyarakat. Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren ini juga mengajarkan kemampuan bertahan hidup, seperti bercocok tanam, beternak, kerajinan tangan, hingga merawat para lansia.

Gus Naim, putra pendiri pondok sekaligus pengasuh Pondok Pesantren SPMAA, menjelaskan bahwa meskipun kebutuhan operasional pesantren tinggi tiap bulannya, santri-santrinya tidak dibebani biaya operasional pesantren. Pihaknya juga pantang meminta-minta atau mengedarkan proposal penggalangan dana untuk pesantren. Ia yakin, pintu-pintu rezeki akan selalu terbuka dari arah yang tidak disangka-sangka.

Pihak pesantren kerap menghemat untuk menyiasati anggaran untuk kebutuhan operasional pesantren, khususnya pangan santri. “Setiap bulan kami menghabiskan satu kuintal beras untuk pangan santri. Masing-masing santri mendapat jatah makan dua kali sehari. Mereka masak sendiri dengan sistem piket,” terang Gus Naim.


Suasana makan malam santri di Pesantren SPMAA Lamongan. (ACTNews/M. Romadhoni)

ACT Jawa Timur melalui program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) berkomitmen untuk membantu pondok pesantren yang telah berjuang demi umat dan bangsa. Sabtu (2/10), satu ton beras diberikan untuk Pondok Pesantren SPMAA.

"Kami salurkan bantuan satu ton beras untuk Pondok Pesantren SPMAA Lamongan karena sangat layak untuk dibantu dan membawa manfaat bagi masyarakat," kata Wahyu Sulistianto Putro selaku Kepala Cabang ACT Jatim.

Gus Naim pun mengapresiasi program BERISI dari ACT. "Terima kasih telah berkenan membantu SPMAA, kami benar-benar menggratiskan biaya santri untuk mondok. Semua kebutuhan kami dapatkan dari Allah, kami tak pernah meminta-minta bantuan, tapi Allah mencukupkan," ujar Gus Naim.

Selain di SPMAA Lamongan, ACT Jatim juga menyalurkan bantuan program BERISI ke Pondok Darut Tauhid Banjaran, Driyorejo. Pesantren ini juga menggratiskan biaya pendidikan santrinya. Sepeninggal pimpinan pondok, pesantren ini seperti kehilangan sumber utama untuk menghidupi kehidupan para santri. []

Bagikan

Terpopuler