Program BERISI Sapa Pesantren Tempat Belajar K.H. Hasyim Asy'ari

Meski telah melahirkan sejumlah ulama besar Indonesia, kondisi Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah sangat sederhana. Para santrinya umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Para santri putra dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah menerima bantuan satu ton beras ACT pada Jumat (25/10). (ACTNews/M. Romadhoni)

ACTNews, SIDOARJO - Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah yang didirikan pada tahun 1787 menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Pasalnya, pondok pesantren yang berada di Sidoarjo, Jawa Timur itu telah banyak melahirkan ulama-ulama besar yang memiliki andil pada kemerdekaan Indonesia.

"Pondok pesantren ini telah banyak melahirkan ulama-ulama besar seperti K.H. M. Hasyim Asy'ari, K.H. Asy'Ad Samsul Arifin, dan K.H. Ridwan Abdullah, yang membuat lambang Nahdlatul Ulama. Lalu juga ada K.H. Alwi Abdul Aziz, K.H. Wahid Hasyim, K.H. Cholil, K.H. Nasir (Bangkalan) K.H.Wahab Hasbullah, K.H. Umar (Jember), K.H. Usman Al Ishaqi, K.H. Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), K.H. Dimyati (Banten, dan lain-lain," kata M. Hasyim Fahrurozi selaku Pengasuh Ponpes Al-Hamdaniyah. 

Selain banyak melahirkan ulama besar, pesantren yang terletak di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Sidoarjo itu terbilang pesantren tertua di Jawa Timur, setelah pesantren Sidogiri Pasuruan. Didirikan oleh K.H. Hamdani, Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah sampai sekarang masih menjadi catatan sejarah bagi bangsa ini. 

"Salah satu ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama atau menjadi santri di pesantren ini yakni K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. K.H. Hasyim Asy'ari menjadi santri di pesantren Al-Hamdaniyah sekitar 5 tahun lamanya," ulas Gus Hasyim, sapaan akrab M. Hasyim Fahrurozi.  

Untuk mengenangnya, hingga saat ini kamar pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren Al-Hamdaniyah itu masih tetap terawat seperti dahulu. "Kamar K.H Hasyim Asy'ari ini sengaja tak pernah dipugar, tetap seperti dahulu. Ini agar menjadi pelajaran bagi santri bahwa untuk menjadi tokoh besar tak harus dengan fasilitas mewah," tegas Gus Hasyim.

Meski telah melahirkan sejumlah ulama besar Indonesia, kondisi pesantren tersebut sangat sederhana. Bangunan pesantren masih berupa papan kayu, layaknya pesantren tradisional. Sebanyak 200 santri menetap dan belajar ilmu agama dan kemandirian di pondok tersebut. Para santri umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah dan hanya dibebankan biaya pondok sebesar Rp 50 ribu rupiah per bulan.

Untuk kebutuhan pangan sebulan, santri mengumpulkan iuran secara sukarela mulai dari Rp 50 ribu - Rp 100 ribu. Namun, iuran ini tidak diwajibkan bagi santri yang tengah berkekurangan. “Santri makan dua kali sehari dengan memasak sendiri. Mereka membagi jadwal masak antarsantri sehingga tercipta kebersamaan,” terang Gus Hasyim.


Bangunan Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah. (ACTNews/M. Romadhoni)

Aksi Cepat Tanggap melalui program Beras untuk Indonesia berupaya memenuhi kebutuhan pangan santri yang paling membutuhkan. Jumat (25/10), satu ton beras diberikan untuk ratusan santri di Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah. Para santri pun amat bersyukur dengan bantuan beras yang didapat. Dengan beras itu, mereka bisa mengalokasikan anggaran belanja untuk membeli lauk-pauk.

Wahyu Sulistianto Putro selaku Kepala Cabang ACT Jatim mengatakan, pemberian bantuan beras untuk santri Al-Hamdaniyah tidak terlepas dari kondisi santri yang membutuhkan. "Semoga bantuan beras ini dapat meringankan beban pangan santri dan membantu mereka belajar dengan lebih fokus dan melanjutkan jejak-jejak ulama besar Indonesia. Sebagaimana kita ketahui pondok ini berjasa mencetak ulama-ulama besar seperti KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama" ujar Wahyu. Program BERISI rencananya juga akan kami salurkan ke beberapa pesantren di Jawa Timur.

Ia menambahkan, beras yang diberikan merupakan beras terbaik yang berasal dari petani lokal, sebagai upaya ACT untuk memberdayakan petani. []