Pukulan Rata Pandemi, Inilah Suara Pedagang Makanan Kecil hingga Menengah

Sektor ekonomi jadi salah satu yang paling merasakan pukulan dari pandemi yang terjadi. Para pelaku ekonomi mulai dari skala mikro hingga menengah tidak luput dari paparan dampak yang terjadi. Saripudin, Darnah, dan Omar bercerita bagaimana pandemi melemahkan ekonomi keluarga mereka.

Darnah (35) sedang melayani pembeli di warung nasi dan lauk pauk miliknya, di Jalan Raya PU, Cimuning, Mustika Jaya, Kota Bekasi. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

ACTNews, BEKASI – Pandemi Covid-19 yang melanda negeri sudah berjalan lebih kurang delapan bulan. Hingga kini, belum juga tampak kondisi tersebut membaik, khususnya di Bekasi. Sektor ekonomi jadi salah satu yang paling merasakan pukulan dari pandemi yang terjadi. Para pelaku ekonomi mulai dari skala mikro hingga menengah tidak luput dari paparan dampak yang terjadi. 

Salah satunya adalah Saripudin, pedagang kerupuk dan tahu. Jalannya sedikit tergopoh, memanggul dagangan kerupuk dan tahu yang tersaji rapi di atas wadah. Saban hari ia melewati Jalan Raya PU, Cimuning, Mustika Jaya, Kota Bekasi. Hari itu, Saripudin cerita, dagangannya belum juga laku. Padahal, ia sudah keluar rumah sejak selepas subuh. 

“Iya belum laku ini biasanya jam segini (pukul 1 siang) sudah sedikit, sekarang sepi jadinya juga enggak nentu. Kalau lagi rame bisa dapat Rp100 ribu,” ujar pria yang tinggal di Kecamatan Citeureup, Bogor. 

Kondisi seperti itu sudah dialami Saripudin sejak berbulan-bulan belakangan ini, saat pandemi menyapa negeri. Langkah kakinya hari itu pun seolah menguat ketika di siang bolong tersebut Saripudin mendapat makanan siap santap dari Operasi Makan Gratis ACT Bekasi yang berkolaborasi dengan Sabana Foundation, Senin (5/10). “Alhamdulillah terima kasih ACT Bekasi atas makan gratisnya,” ucap Saripudin.

Senada dengan Saripudin, Darnah (35) pemilik warung nasi di Setu, Kabupaten Bekasi juga mengaku jadi satu di antara banyak pelaku usaha kecil yang merasakan dampak dari pandemi. Bahkan, saking berpengaruhnya terhadap kelangsungan warung nasi dan lauk-pauknya, ia pun harus merumahkan salah satu karyawan yang membantu memasak sehari-hari. 

“Gara-gara corona (dagangan jadi) sepi. Dulu itu saya ada karyawan tapi sekarang mau bagaimana akhirnya sendiri saja, masak, belanja. Omzet hampir Rp1 juta kalau lagi rame sehari, tapi sekarang menurun,” ujar Darnah kepada ACTNews.

Kisah lainnya datang dari pengelola usaha makanan siap santap, Sabana. Omar, salah satu koordinator yang bertugas di bagian distribusi ayam sebagai bahan pokok bisnis Sabana mengungkapkan, usaha yang dikelolanya sempat mengalami hantaman hebat sejak awal pandemi. Meski begitu, ia mengaku sekarang perlahan kondisinya sedang membaik. 


Saripudin mendapat paket makan siang dari Operasi Makan Gratis yang digelar ACT Bekasi dan Sabana Foundation. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

“Saya bertugas di stok poin, normalnya itu sehari bisa 600 sampai 800 ekor ayam buat semua mitra Sabana, tapi sekarang bisa cuma 200 ekor. Sebulan terakhir ini baru pelan-pelan naik lagi walaupun belum normal. Saya sudah dua tahun ini jalanin Sabana, baru kali ini paling pahit,” ujar Omar.

Omar mengatakan, untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada, ia pun menyiasati dengan memberikan upah kepada karyawan dengan skema upah harian. Sebab, menurutnya, biaya sewa tempat dan karyawan apabila diberikan setiap bulan menjadi beban tersendiri. 

“Tapi alhamdulillah, sekarang kita sudah bisa kelihatan untungnya walaupun tipis-tipis, paling tidak buat gaji karyawan walaupun harian bisa terbayar. Soalnya sekarang kalau tidak harian (upahnya) ya bagi hasil, itu paling aman. Sehari kita menargetkan satu tempat 6 sampai 8 ekor ayam,” katanya. 

Sabana melalui Sabana Foundation menjadi mitra ACT Bekasi dalam implementasi Operasi Makan Gratis di Jalan Raya PU, Cimuning, Mustika Jaya, Kota Bekasi dan di Jalan Raya dr. Ratna, Jatibening, Kota Bekasi. Melalui program kolaborasi tersebut, Kepala Cabang ACT Bekasi Ishaq Maulana berharap ada maslahat ganda yang dirasakan baik oleh pelaku usaha dan juga masyarakat. 

“Di saat seperti ini, kolaborasi jadi salah satu hal yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat termasuk kerentanan terhadap kelaparan. Kami juga mengajak masyarakat luas untuk mendukung program makan gratis ini dengan sedekah terbaik yang bisa ditunaikan melalui laman Indonesia Dermawan,” ujar Ishaq. []