Pulau Tunda Menanti Guru Tambahan

Ada 126 siswa SD dan 68 siswa SMP di Pulau Tunda yang hanya diajar oleh 10 guru. Siswa yang kemudian melanjutkan ke pendidikan atas dan perguruan tinggi di Jawa sangat sedikit yang kembali ke kampung halaman.

Pulau Tunda Menanti Guru Tambahan' photo
Siswa SDN Pulo Tunda menyambut kedatangan tim Global Zakat-ACT yang membawa paket pendidikan untuk mereka. Ada 126 siswa SD di Pulau Tunda tahun ajaran 2020-2021. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, SERANG Menjelang akhir Oktober ini, tepatnya Rabu (28/10), Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkesempatan datang ke Pulau Tunda, Kabupaten Serang. Dua jam perjalanan ditempuh dari Pelabuhan Karangantu menggunakan kapal milik nelayan. Bersama relawan Masyarakat Relawan Indonesia Kabupaten Serang, ACT membawa ratusan paket pendidikan berupa alat pendukung sekolah untuk siswa sekolah dasar. Mereka semua merupakan siswa yang bersekolah di SDN Pulo Tunda, satu-satunya sekolah dasar yang ada di pulau yang masuk administrasi Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang.

Di SDN Pulo Tunda, ada 15 orang yang bekerja, 10 di antaranya merupakan guru. Dari 10 guru itu, hanya dua orang yang statusnya sebagai pegawai negeri, sedangkan sisanya masih honorer, dan mereka hanya mengajar 126 siswa SD di tahun ajaran 2020-2021 ini. Guru yang mengajar di SDN Pulo Tunda merupakan warga lokal yang pernah mengenyam pendidikan di Pulau Jawa. Kesadaran diri dan kecintaannya pada tempat lahir membuat mereka kembali ke Pulau Tunda untuk mengabdi walau dengan gaji yang tak terlalu besar.

“Guru di sini semuanya orang lokal. Mereka pernah bersekolah di Jawa, dan kemudian memutuskan kembali ke tanah kelahiran,” jelas Sahroni, Kepala Sekolah SDN Pulo Tunda, Rabu (28/10).

Tenaga pengajar di SDN Pulo Tunda yang masih honorer merupakan mereka yang baru selesai sekolah pada tingkat menengah atas saja. Dan, wajar ketika Sahroni mengatakan bahwa mereka semua pernah mengecap pendidikan di Jawa. Pasalnya, di Pulau Tunda hingga kini belum tersedia pendidikan sekolah menengah atas atau setara. Sehingga, bagi yang ingin melanjutkan pendidikan selepas SMP, mereka akan merantau ke Jawa, dan Kabupaten atau Kota Serang jadi tujuan utamanya.


Salah satu siswa SDN Pulo Tunda yang mencoba sepatu baru dari paket pendidikan Global Zakat ACT. SDN Pulo Tunda sendiri merupakan satu-satunya sekolah dasar di Pulau Tunda dengan 10 orang guru. (ACTNews/Eko Ramdani)

Di Pulau Tunda sendiri, sekolah dari tingkat usia dini hingga menengah tertama ada di satu kompleks yang sama. Sekolah ini dinamai sekolah satu atap dan satu-satunya di pulau tersebut. Sebanyak 10 guru yang tersedia saat ini pun mengambil peran ganda, yaitu guru di SD dan SMP. Bahkan, beberapa di antaranya juga mengajar di PAUD dengan total murid hingga ratusan anak. Sahroni menambahkan, ketersediaan guru saat ini sangatlah sedikit dibanding dengan jumlah murid.

“Di Pulau Tunda saat ini krisis guru. Padahal fasilitas bangunan terbilang cukup baik, malah tahun 2021 nanti, ada beberapa bangunan di kompleks sekolah yang bakal direnovasi. Jadi guru SD di sini ya juga guru SMP, tapi gajinya enggak dobel,” ungkap Sahroni diiringi dengan tawa.

Minim guru

Kehadiran guru seakan menjadi dambaan bagi siswa dan guru lain di Pulau Tunda. Bahkan, mereka membuka kesempatan bagi warga di luar pulau untuk bisa mengabdi pada pendidikan di sana. Hal itu diungkapkan Sahroni karena warga Pulau Tunda sendiri yang melanjutkan pendidikan ke SMA sederajat hingga perguruan tinggi sangat sedikit yang kembali ke kampung kampung halaman untuk memajukan tempat kelahirannya sendiri. Kurangnya kesadaran hingga adanya pernikahan beda pulau membuat siswa yang menempuh pendidikan lebih tinggi tak lagi tinggal di Pulau Tunda.

“Sebenarnya harapan kita semua bagi mereka yang bersekolah hingga tinggi di luar pulau bisa kembali untuk memajukan daerahnya, termasuk pendidikan,” harap Sahroni.

Untuk mengapresiasi pengabdian guru di Pulau Tunda, Global Zakat-ACT pada Rabu (28/10) tak hanya memberikan paket pendidikan ke siswa, tapi juga bantuan biaya hidup untuk guru dari program Sahabat Guru Indonesia. Sambutan baik pun datang. Bagi guru-guru di Pulau Tunda, bantuan ini sangat membantu dan menyemangati ikhtiar mereka memajukan pendidikan di pulau yang dihuni sekitar 2 ribuan jiwa itu.

“Terima kasih hadirnya Global Zakat-ACT di pulau kami. Semoga ke depannya, akan ada kerja sama lain untuk memajukan pendidikan di Pulau Tunda. Keinginan kami ialah hadir SMA sederajat atau paling tidak paket C, agar siswa bisa menghabiskan pendidikan hingga tingkat atas di sini, baru nanti melanjutkan pendidikan tinggi di Jawa. Tujuannya agar mereka bisa lebih sadar untuk memajukan tempat kelahiran mereka sendiri,” pungkas Sahroni.[]