Puluhan Paket Pangan Pancarkan Kebahagiaan Santri Yatim di Gaza

Akibat blokade yang telah berlangsung selama belasan tahun atas Jalur Gaza, para yatim di wilayah tersebut mengalami kesulitan karena berkurangnya dukungan finansial. Berupaya menghadirkan kebahagiaan untuk mereka, ACT membagikan puluhan paket pangan kepada para santri yatim di berbagai wilayah di Jalur Gaza.

Ceria anak-anak yatim di Gaza yang menerima paket-paket pangan dari Aksi Cepat Tanggap (ACTNews).

ACTNews, JALUR GAZA - Mengawali tahun 2021, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali menghadirkan kebahagiaan bagi warga Jalur Gaza yang membutuhkan uluran kepedulian. Kali ini, paket-paket bantuan menjangkau anak-anak yatim di Gaza. Sejak 23 hingga 28 Januari 2021, puluhan paket pangan didistribusikan kepada para anak yatim Gaza. 


“Sebanyak 78 anak yatim yang merupakan pelajar Alquran dari berbagai daerah di Jalur Gaza menerima bantuan paket pangan yang didistribusikan pada paruh ketiga Januari 2020. Daerah yang dijangkau oleh distribusi paket pangan meliputi Jabalia dan Beit Hanoun di Gaza Utara, Al-Zawayda dan Deir Al-Balah di Gaza Tengah, serta Abasan dan Bani Suheila di Kota Gaza,” papar Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT, Rabu (3/2/2021) 


Pembagian bantuan pangan ini merupakan wujud kepedulian kepada anak-anak yatim sebagai salah satu kelompok sosial yang rentan. “Semenjak blokade tahun 2007, anak-anak yatim piatu hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit akibat berkurang atau berhentinya dukungan finansial kepada mereka,” imbuh Said. Dia menambahkan bahwa, secara umum, penerima manfaat dari program pembagian paket-paket pangan ini adalah para siswa yatim yang hidup dalam keadaan ekonomi yang sulit akibat kelaparan, kemiskinan, dan ketiadaan lapangan kerja. 

Sebagaimana dilaporkan oleh Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), lebih dari separuh populasi di Jalur Gaza hidup dalam kemiskinan sebagai akibat dari blokade darat, laut, udara yang berlakukan oleh Israel atas Jalur Gaza. Ditambah dengan operasi militer yang telah terjadi beberapa kali, hal ini menyebabkan terpuruknya situasi ekonomi di Jalur Gaza serta melambungnya angka pengangguran. 


“Situasinya akan memburuk apabila blokade ini terus berlanjut,” papar Mahmoud Elkhafif, Koordinator UNCTAD untuk bantuan kepada Palestina, November 2020, dilansir dari Al-Jazeera

Lebih lanjut, Elkhafif mendesak agar blokade itu segera dibuka agar warga Gaza dapat kembali bergerak bebas, melakukan aktivitas bisnis, serta bertemu dengan anggota keluarga mereka di luar Jalur Gaza.



Mitra Aksi Cepat Tanggap di Gaza menyiapkan paket-paket pangan untuk didistribusikan kepada santri Quran yatim di Gaza. (ACTNews)


Blokade yang telah mengurung warga Gaza selama bertahun-tahun ini juga memberi dampak buruk bagi anak-anak. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan, hingga akhir 2020, tercatat lebih dari satu juta anak di Gaza terhalang dari akses untuk mendapatkan hak pelayanan dasar. UNICEF menambahkan bahwa setidaknya 500.000 anak di Gaza hanya memiliki akses yang terbatas untuk mendapatkan air bersih dan layak minum. 


Hadirnya distribusi bantuan dari ACT ini diharapkan dapat memberikan secercah kebahagiaan bagi para santri yatim di Gaza di tengah situasi yang sulit. “Bantuan paket pangan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi para yatim, diantaranya untuk meningkatkan gizi para pelajar yatim, meningkatkan kondisi psikologis para pelajar yatim dan keluarganya yang kurang mampu, mendukung sektor ekonomi dan industri di Gaza, serta mewujudkan prinsip solidaritas dalam komunitas lokal,” pungkas Said. []