Puncak Musim Dingin, Bagaimana Kondisi Kamp Pengungsi di Idlib?

Puncak Musim Dingin, Bagaimana Kondisi Kamp Pengungsi di Idlib?

ACTNews, IDLIB, SURIAH - Bertahun-tahun tinggal di kamp pengungsian, tak ada pemandangan dan suasana baru bagi ratusan ribu pengungsi Suriah yang tinggal di tenda-tenda pengungsi di seantero Kota Idlib, sebelah Utara Suriah. Kondisi makin pelik di awal tahun 2019 ini, kala musim dingin mencapai puncak terdinginnya. Para pengungsi harus menghadapi musim dingin dalam suasana yang tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Tanah berlumpur, becek, dan air yang menggenang, mengepung ribuan tenda pengungsian di Idlib. Memang bukan sampai salju yang menerjang di Idlib, tapi hujan turun di suhu mendekati beku. Sementara tenda pengungsian yang sesak hanya dibangun dari plastik sebagai dinding dan atapnya. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) awal Januari lalu mengonfirmasi tentang belasan anak-anak Pengungsi Suriah yang wafat karena hantaman suhu dingin di tenda-tenda plastik tak layak huni. Apalagi, beberapa tahun terakhir, Idlib adalah lokasi utama pelarian pengungsi dari kota-kota lain di Suriah. 

Seperti yang dijelaskan Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) - Aksi Cepat Tanggap (ACT), perpindahan pengungsi ke Idlib di tahun 2018 terjadi dalam jumlah yang besar. 

"Mitra ACT di Idlib mengatakan, terjadi eskalasi atau peningkatan jumlah pengungsi yang signifikan di Idlib. Mereka lari ke Idlib dari kota-kota lain yang menjadi pusat konflik Suriah, termasuk juga dari wilayah Ghouta Timur yang memanas di awal tahun 2018 silam," kata Faradiba.

Hitungan PBB, setidaknya adal lebih dari 11.000 pengungsi anak-anak dan keluarga mereka yang harus menghadapi musim dingin di awal 2019 ini, tanpa shelter sama sekali. Bukan karena tidak mendapatkan bantuan shelter, tapi hujan deras di Idlib dalam beberapa pekan terakhir, menyapu habis tenda pengungsian dan barang-barang mereka. Terendam banjir, atau ambruk dihempas angin kencang. 

UNHCR memperingatkan adanya risiko nyata bagi pengungsi Idlib mengenai penyakit dan kematian yang semakin dekat jika kondisi ini terus dibiarkan. Seperti diketahui, kondisi ini diperparah setelah hujan badai yang terjadi Kamis pekan lalu (17/1), yang mengakibatkan kamp Idlib digenangi banjir.

ACT siapkan rumah susun untuk pengungsi Idlib

Menghabiskan musim dingin 2019, sebagian besar dari pengungsi Suriah di Idlib, hanya bersandar pada bantuan kemanusiaan yang masuk sampai ke wilayah di Utara Suriah itu. Seperti yang dilakukan oleh mitra dan Tim Aksi Cepat Tanggap yang bertugas di dalam Suriah. Getir ini harus segera usai, begitu tekad ACT untuk membantu krisis kemanusiaan yang terjadi di Suriah. Tak terkecuali bagi para pengungsi Idlib.

Salah satu ikhtiar untuk pengungsi Idlib, ACT menggandeng mitra lokal yang kini tengah membangun sebuah kompleks rumah susun atau flat di sebuah kota di Suriah Timur, kota itu bernama Al-Dana.

Rumah susun ini dibangun bak tempat tinggal para pengungsi yang dulu, sehingga mereka bisa merasa nyaman. Sebab, menyediakan rumah yang nyaman menejadi salah satu tujuan ACT untuk membantu para pengungsi Suriah. Bangunan flat ini akan dilengkapi dengan ruang tidur, dapur, dan juga kamar mandi, tak hanya itu kantor, gudang, sekolah dan klinik akan dibangunan di rumah susun ini.

Firdaus Guritno dari Global Humanity Response (GHR) – ACT mengatakan, semoga rumah susun ini bisa segera dirasakan oleh para pengungsi Suriah. “Semoga pembangunan ini segera rampung, sehingga para pengungsi bisa segera menempati rumah susun ini. Semoga kebaikan yang telah diupayakan ini menjadi pelecut untuk memberikan masalahat bagi sebanyak-banyaknya orang, tak hanya yang dekat, tetapi juga untuk jutaan umat di ribuan kilometer jaraknya”, ucap Firdaus. []

Sumber foto: peter-nicholls.com

Tag

Belum ada tag sama sekali