Puncak Musim Hujan Diperkirakan dari Februari hingga Maret

BMKG memperkirakan, bulan Januari baru awal musim hujan. Pucak musim diperkirakan akan terjadi pada Februari hingga Maret nanti.

Puncak musim hujan berarti hujan didominasi oleh intensitas tinggi, yakni 300mm/bulan.(ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA - Dalam program gelar wicara Polemik: Talkshow Akhir Pekan Terhangat dengan tema ‘Banjir Bukan Takdir?’, Kepala Bidang Diseminasi Informasi Hukum dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko mengatakan bulan Januari baru awal musim hujan. Pucak musim diperkirakan akan terjadi pada Februari hingga Maret nanti.

“Secara musim perlu diketahui bahwa di bulan Januari, Februari, Maret itu adalah bulan-bulan puncak musim. Bukan berarti puncak hujannya. Kalau bicara musimnya, berarti hujannya setiap hari terjadi. Kalau kemarin ada hujan, kemudian tidak ada hujan besoknya, berarti itu bukan puncak musimnya. Itu curah hujan tertinggi di suatu lokasi,” kata Hary di acara yang diselenggarakan di Sasana Krida Karang Taruna, Bidara Cina, Jakarta Timur pada Sabtu (4/1) lalu.

Puncak musim hujan prakiraan dari BMKG pada area Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat, didominasi di bulan Februari. Selain Jabodetabek, BMKG juga fokus ke daerah-daerah di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

“Kalau konteksnya kita bicara wilayah Jabodetabek saat ini, maka kita harus bicara bulanannya dulu seperti apa. Di bulan Desember lalu itu didominasi intensitas menengah, saat ini di bulan Januari didominasi intensitas tinggi. Artinya intensitasnya di atas 300mm/bulan. Bulan Februari sama, bulan Maret juga sama,” kata Hary.

Dampak banjir Jabodetabek di salah satu wilayah di Jatiasih, Bekasi pada awal tahun 2020 ini. (ACTNews/Rahman Ghifari)

BMKG akan terus memperbarui dan menyebarkan informasi melalui pesan siar di berbagai aplikasi agar masyarakat bisa terus mengetahui perkembangan cuaca. Jika ada informasi yang meragukan, masyarakat bisa langsung memeriksanya langsung melalui BMKG.

“Lalu kalau ada warning dari kami yang muncul 3 jam sekali dan lebih dari 4 kali, itu sebagai penanda sebetulnya. Masing-masing warga harus memeriksa daerahnya masing-masing,” jelas Hary. Memeriksa daerah berarti upaya menanggulangi bencana yang akan terjadi akibat hujan lebat.


Saat hujan lebat mengguyur DKI Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi lebih dari 12 jam sejak Selasa (31/12/2019) sore hingga Rabu (1/1/2019) pagi. Aksi Cepat Tanggap (ACT) pun menerima banyak laporan banjir dari masyarakat. Selain menugaskan tim Disaster Emergency Response (DER), ACT membuka sejumlah posko untuk merespons kebutuhan masyarakat terdampak banjir.

Wahyu Novyan selaku Direktur Program ACT menyampaikan bantuan-bantuan untuk korban banjir Jabodetabek telah dan akan terus didistribusikan oleh ACT dalam beberapa waktu ke depan. “Saat ini kami memiliki 56 posko di berbagai lokasi, dengan tim rescue lebih dari 100 orang. Tentu dengan kondisi yang ada, hal ini masih kurang dan kami mengajak masyarakat untuk bergabung saling membantu. Kami juga memiliki armada Ambulans Pre-Hospital untuk memberikan layanan kesehatan gratis, Humanity Food Truck yang menghadirkan layanan makan gratis, dan Humanity Rice Truck untuk layanan beras gratis,” terang Wahyu. []