Pusaka Kemakmuran Bernama Kejujuran dan Keadilan

Di saat ini, masyarakat kehilangan kejujuran dan keadilan, menurut K.H. Miftachul Akhyar. Banyak yang memberi janji-janji palsu, dan yang diberi janji pun terbuai sehingga semakin lemah dan terpuruk.

K.H. Miftachul Akhyar sedang memberikan sambutan dalam acara Waqf Business Forum. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, SURABAYA – Tersebutlah Kekaisaran Anusyirwan, sebuah kekaisaran Majusi yang berkuasa di pertengahan tahun 500 Masehi. Dua orang tetangga pada masa itu sedang berjual-beli tanah. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Miftachul Akhyar yang menceritakan kisah ini menyebut dua orang itu sebagai si A dan si B. Saat menggarap tanah yang baru saja ia beli, si B terhenti karena sesuatu.

“Begitu si B ini mau menggarap tanahnya, digali, tiba-tiba si B menemukan harta karun. Terkejut si B. Bukan terkejut kesenangan, tapi terkejut bercampur marah. Kenapa si A menjual tanahnya, sedang tanahnya terpendam harta karun?” cerita K.H. Miftachul.

Dengan berang ia datang pada si A. Ia menganggap si A tidak jujur karena menjual tanah berisi harta karun. Sebaliknya, di A bersikukuh tanah itu sudah jadi punya si B. Apa pun yang ada di dalamnya, menjadi hak si B. Demikian kejujuran dari masyarakat Kaisar Anusyirwan saat itu.

“Ini kalau kira-kira orang Indonesia mendengar semacam ini, wah pikirannya sudah 30% ini,” sentil K.H. Miftachul di tengah ceritanya.

Di tengah kebuntuan, mereka berdua memutuskan menemui kaisar karena memiliki pemerintah yang amanah. Duduk perkaranya pun dijelaskan kepada Kaisar Anusyirwan. Sang Kaisar terharu sebab rakyatnya juga mengamalkan kejujuran dan keadilan yang ditanamkan di kekaisaran ini.


Sifat inilah yang membuat kekuasaan Majusi kelak bertahan hingga 4.000 tahun lamanya. Konon kekuasaan itu runtuh setelah tahtanya turun ke putri Anusyirwan yang di masa itu juga, putrinya merobek-robek surat dari Rasulullah SAW.

Ternyata mereka-mereka penyembah api itu menerapkan sifat kejujuran. Sehingga Allah membalasnya dengan sebuah kesuksesan di dunia, tapi di akhiratnya tidak ada. Jadi adil dan jujur ini merupakan pusaka. Soko (tiang)-nya dari pada kesejahteraan dan kemakmuran. Sebagaimana kita diciptakan oleh Allah tidak lain untuk memakmurkan dunia,” kata K.H. Miftachul dalam acara Waqf Business Forum (WBF) bertajuk “Wakaf Energi Kedaulatan Pangan Umat” di Hotel Haris Surabaya, Ahad (27/12/2020).

Akhir dari cerita yang dikutip dari Imam Al-Ghazali dalam karyanya “At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk” ini, kaisar pada akhirnya menjodohkan kedua anak si A dan si B dengan kesepakatan keluarganya. Jadilah harta karun itu digunakan untuk kepentingan keluarga besar.

Sifat jujur dan adil ini yang menurut K.H. Miftachul sulit ditemukan pada umat Islam sekarang. “Padahal adil dan jujur itu sifat kita, sifat lazimah umat Islam. Tapi kenapa kondisi umat Islam seperti ini? Mungkin kita kehilangan sifat adil dan jujur. Atau tidak sempurna, hilang. Orang lain menerapkan sifat adil dan jujur, Allah memberikan kesuksesan,” jelasnya.


Serah terima cendera mata dari Global Wakaf - ACT kepada K.H. Miftachul Akhyar. (ACTNews/Eko Ramdani)

Ia mencontohkan bagaimana orang-orang saat ini mencoba melobi dan menyenangkan orang lain hanya karena ingin proyeknya lancar. Oknum-oknum ini membawa janji-janji manis yang di kemudian hari, janji itu tak lunas, melainkan malah diinjak-injak oleh orang lain lagi.

“Mereka ketakutan kalau umat Islam pegang kendali ekonomi, habis mereka. Sehingga sekarang yang diterapkan, mereka datang ke salah satu orang, ke saya misalnya. Nanti sekian ini, itu. Ada yang tukang janji, bagi-bagi berbagai macam. Tapi nanti ada yang datang untuk menginjak janji ini. Karena kenapa? Karena ketakutan kalau umat Islam ini berdaya dalam ekonominya,” tutur K.H. Miftachul.

Banyak umat Islam yang kemudian terbuai dengan pujian dan janji-janji ini. Ia mengutip syair dari ahli hikmah bahwasannya ada 2 penyakit yang sangat berbahaya. Yakni tidur saat menjadi mayoritas, dan mundur saat orang lain maju. Penyakit inilah yang diduga K.H. Miftachul sedang diidap masyarakat.

“Sehingga sekarang banyak dalam bisnis kita sering mendengar, yang penting dasarnya antarrodhin. Bahasa Arab yang artinya sama-sama rida. Tapi sekarang diplesetkan, anta rodhin. Kamu yang rida, wa ana mampus,” kelakarnya.


Oleh karenanya, ia sangat mengapresiasi gerakan yang hadir untuk membantu umat Islam bangkit dari keterpurukannya dan kembali memakmurkan masyarakat luas. Salah satunya melalui Wakaf Pangan Produktif kolaborasi antara Global Wakaf – ACT dan
Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I). Dalam kerja sama ini, dana wakaf masyarakat akan digunakan untuk mengelola 500 hektare lahan di Jawa Timur. Hasilnya pun, akan kembali ke masyarakat dan menyejahterakan para petani.

“Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan, kelancaran, keberkahan, di dalam gerakan-gerakannya dan sangat dinanti oleh umat. Dan yang perlu lagi penyadaran umat di situasi yang seperti ini agar terus mau menggali ilmu dan mencari ilmu, agar tidak hidup di dalam kebingunan fitnah yang ada ini,” harap K.H. Miftachul. []