Ramadan di Gaza: antara Ancaman Konflik dan Himpitan Pangan

Ramadan kini telah tiba di Tanah Gaza. Warganya turut berbahagia walau sedang dirundung duka

ACTNews, GAZA – Menanti Ramadan seolah menjadi kebahagiaan bagi umat muslim, tak terkecuali masyarakat Palestina yang hidup di Gaza. Di tanah yang sedang dirundung konflik itu, masyarakatnya tumpah ruah di jalan menjelang Ramadan, akhir pekan lalu. Pasar ramai dengan calon pembeli, juga kehangatan di tengah keluarga.

Hasan, salah satu warga Gaza yang berbahagia karena Ramadan tiba. Ia mengatakan, Ramadan merupakan bulan yang paling dinanti, baik anak kecil hingga orang dewasa. Mereka menggantungkan harapan. Memanjatkan doa untuk keselamatan. “Ramadan merupakan bulan yang suci, juga bahagia bagi semua orang di Gaza,” ungkap Hasan Awal Mei lalu.

Namun, meriahnya Ramadan berubah saat serangan Israel diluncurkan tepat beberapa hari sebelum Ramadan tiba. Sabtu (4/5), serangan udara Israel ke Gaza menghancurkan bangunan, sebanyak 300 apartemen dilaporkan hancur. Selain itu, tercatat 28 orang meninggal dunia, sedangkan lebih kurang 200 orang mengalami cedera.

Hasan menuturkan, serangan itu melukai kebahagiaan menjelang Ramadan, bahkan hingga Ramadan berlangsung seperti sekarang ini. Blokade Israel semakin ketat pascaserangan, membuat berbagai kebutuhan selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri nanti sulit didapat.

Berdasarkan penuturan Hasan, serangan Israel berlangsung saat rumahnya penuh dengan anak-anak. Mereka berkumpul karena menjelang Ramadan. Akan tetapi tak lama serangan itu datang dan menghancurkan rumah. Beruntung anak-anak dapat dievakuasi dengan segera. “Serangan pertama menyasar permukiman sedangkan yang kedua mengenai mobil-mobil di jalan,” tutur Hasan.




ACT menemani Ramadan Gaza

Kini, blokade yang dilakukan Israel sejak tahun 2007 silam semakin ketat. Perbatasan darat dijaga, udara dan wilayah perairan Gaza semakin terdesak dengan adanya kendaraan perang Israel yang kian mendekat.

Walau kondisi yang tak bersahabat, Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak hari pertama Ramadan lalu hingga akhir nanti akan terus memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Palestina. Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT mengatakan, selama Ramadan akan ada paket makanan siap santap yang dibagikan setiap sahur dan berbuka puasa.

Sajian menu sarat gizi seperti roti yang menjadi makanan pokok di Gaza, serta makanan pendamping lain seperti buah, keju, dan susu. Sebanyak 500 paket makanan siap santap dibagikan tiap sahur dan berbuka. Masyarakat prasejahtera dan lansia menjadi target utama. “Paket ini akan diberikan selama Ramadan,” jelasnya Faradiba, Jumat (9/5).

Hari pertama Ramadan, tim ACT yang berada di Gaza ikut dalam suasan sahur di salah satu keluarga yang tinggal di Negeri Syam itu. Kehangatan terasa walau kegelapan membalut persiapan puasa pagi itu. Tak ada listrik yang mengalir, membuat gelap menjadi hal wajar di Gaza.

Selain listrik yang tak selalu ada, air juga kini telah dinyatakan tercemar dan tak layak minum. Tingkat pengangguran yang tinggi juga menjadi penambah permasalahan. Diperkirakan lebih dari setengah penduduk Gaza tak memiliki pekerjaan dan berada di bawah garis kemiskinan.[]