Ramadan di Somalia, Ada Paket Iftar dari Indonesia

Ramadan di Somalia, Ada Paket Iftar dari Indonesia

Ramadan di Somalia, Ada Paket Iftar dari Indonesia' photo

ACTNews, MOGADISHU – Antara teror dan rasa takut, melebur dengan keramaian ibukota dan kumuhnya puluhan ribu tenda-tenda pengungsian, begitulah Mogadishu hari ini. Pengalaman panjang dibelit konflik yang tak juga berakhir, memaksa Mogadishu membaurkan antara angan untuk bangkit dan nestapa.

Dari sebuah jalan paling sibuk di Mogadishu - namanya Maka al Mukarama – gambaran Mogadishu tergambar apa adanya. Ramai pejalan kaki, kemacetan bertemu, dan militer pemerintah yang lalu-lalang menjaga agar tak ada teror sepanjang hari. Kemudian pilih jalan untuk berbelok menuju ke daerah Kaxda (baca: Kahda), sepuluh sampai lima belas menit dari tengah kota. Di Kaxda, keramaian berubah 180 derajat. Bukan lagi tentang kemacetan dan pertokoan di sana-sini, yang ada hanya ribuan unit tenda-tenda pengungsian. Tenda dibuat hanya dengan ranting bambu, sudah hampir ambruk ditiup angin dan debu pekat khas tanah Afrika.

Menyebut nama Somalia, negeri di ujung tanduk Afrika Timur itu memang tak terbayangkan betapa jauhnya. Namun jangan salah, nama Indonesia, berikut hati dan empati orang Indonesia sudah lama dikenal oleh orang Somalia.

Bulan September 2017 lalu misalnya, Aksi Cepat Tanggap (ACT) baru saja kembali dari Mogadishu. Merampungkan amanah Global Qurban yang ditunaikan sampai Somalia, juga mendistribusikan ribuan paket beras Kapal Kemanusiaan Somalia yang dilayarkan jauh dari Indonesia.

Untuk Somalia, ACT memang tak lagi asing. Mitra, jejaring, kawan bahkan saudara sudah terjalin erat dengan banyak pihak di Somalia. Hanya ingin menyampaikan pesan, bahwa meski jauh di atas peta, tapi Somalia – negeri Afrika dengan populasi Muslim nyaris 100 % - itu dekat hatinya dengan Indonesia.  

Iftar Ramadan dari Indonesia untuk Somalia

Seperti menjelang hari-hari Ramadan 1439 atau tahun 2018 ini, segenap rencana sudah disusun. Menyapa lagi Somalia, membawa kebaikan Ramadan. Untuk Mogadishu, juga untuk berbagai provinsi lain di Somalia yang menampung angka pengungsian paling banyak.

Melansir catatan Badan Dunia, sampai dengan Maret 2018 kemarin, jumlah pengungsi internal atau Internally Displaced People’s (IDPs) di seantero Somalia mencapai angka 1.560.000 jiwa. Lebih dari sejuta lima ratus pengungsi menetap di tenda kumuh beratap ranting kayu, beralas tanah.

Andi Noor Faradiba, dari Global Humanity Response ACT mengatakan, Insya Allah di Ramadan tahun ini, ACT akan kembali ke Somalia menyiapkan ribuan paket iftar.

“Paket berbuka puasa akan disiapkan oleh relawan ACT yang kini menetap di Somalia. Paket kemudian didistribusikan ke lokasi kamp paling padat, termasuk juga ke wilayah yang awal Mei 2018 ini diterjang banjir bandang di Somalia,” kata Faradiba.

Awal Mei 2018 ini, Somalia memang sedang mengalami anomali cuaca ekstrem. Relawan ACT di Mogadishu menjelaskan, banjir besar menggenangi ribuan rumah dan kamp pengungsian di Hirshabelle, juga di Jubaland. Pascabanjir, ancaman baru malah datang dalam bentuk wabah kolera mematikan.

“Karena sanitasi yang buruk di tenda-tenda pengungsian itu. Banjir datang lalu ancaman kolera muncul setelah banjir surut. Padahal sebentar lagi mau masuk Ramadan,” kata Safiya, Relawan ACT di Mogadishu.

Memanggil kembali memori setahun lalu, selang beberapa hari Ramadan tahun 2017, Ahyudin Presiden ACT bertandang ke Mogadishu. Sempat merasakan sejenak perjuangan berbuka puasa dalam kondisi tak layak di tenda pengungsian.

‘“Masya Allah, Ramadan tahun lalu di Somalia saya tidak bisa berkata-kata. Membayangkan mereka tinggal di tempat seperti ini saja tidak ada dalam jangkauan pikiran saya. Serba sulit. Makan sulit, minum sulit, tidur pun sulit. Hebatnya, mereka tetap berpuasa. Semoga mereka terus ditetapkan keimanannya,” pungkas Ahyudin. []

 

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan