Ramadan, Kerelaan Berdamai dengan Keterbatasan

Tidak dipungkiri, penyintas konflik di Suriah harus menjalani ibadah Ramadan di bawah bayang-bayang perang. Mereka pun tidak dapat menolak, kala sesekali memori Ramadan yang tenang sebelum perang memenuhi ingatan. Bagaimanakah mereka menjalani Ramadan kali ini?

Ramadan, Kerelaan Berdamai dengan Keterbatasan' photo
Tenda terpal yang semakin disesaki penghuni menjadi tempat bernaung para penyintas perang di Idlib. Bertahun-tahun mereka harus menjalani kehidupan di bawah selapis kain mota, termasuk Ramadan kali ini. (ACTNews)

ACTNews, IDLIB – Ramadan tahun ini jelas berbeda bagi keluarga Fatum Umm Muhammad. Ia dan keluarganya adalah penyintas perang yang kini harus mengungsi di wilayah pengungsian di utara Suriah. Sebagaimana hari-hari Ramadan yang telah dilalui pada tahun ini, Fatum hanya dapat menyediakan hidangan iftar yang amat sederhana.

“Sepanjang tahun adalah hari yang berat, namun yang paling berat ketika Ramadan datang adalah memori tentang kebahagiaan-kebahagiaan sebelum perang. Saya rindu beberapa hal, sebelum-sebelumnya kita bisa membuat kue dan cemilan manis yang kita suka menggunakan oven. Sekarang tidak lagi bisa. Kalau pun kita ingin membuat makanan kesukaan kita, tidak semua bahan-bahannya dapat kita beli. Sulit rasanya untuk merayakan Ramadan sebagaimana hari-hari dulu,” kata Fatum kepada TRT World, dirilis Selasa (5/5).

Belum lagi, keluarga Fatum dengan sepuluh orang anak harus menjalani Ramadan dalam bayang-bayang perang dan ancaman pandemi corona. Ramadan ini, semua serba krisis dan terbatas.

Harga bahan makanan yang tinggi juga membuat para penyintas kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. “Tidak ada persiapan Ramadan. Semua bahan makanan mahal. Sayur-mayur, daging sapi, dan daging ayam amat mahal. Jadi, kami tidak mempersiapkan apa pun untuk Ramadan,” cerita Um Hassan di Idlib kepada TRT World akhir April lalu.

Tidak ada pilihan, warga Idlib dan sebagian besar pengungsi mau tidak mau harus bertahan di tengah harga bahan makanan yang mahal. “Belum lagi kami harus menghadapi pandemi (Covid-19) ini, kami harus bertahan dari ribuan hal lain, dan tidak seorang pun yang membantu kami. Semoga Allah membantu kami,” ungkap Muhammad Muhajir, salah seorang pengungsi di Idlib, dilansir dari TRT World.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan itu, sebagian warga di Idlib juga masih saling membantu. Sebagaimana dikabarkan AFPNews, sejumlah janda menyiapkan hidangan buka puasa untuk pengungsi Idlib yang membutuhkan. Mereka mengenakan sarung tangan dan masker dalam menyiapkan makanan untuk memnimalisir penularan Covid-19.

“Makanan kami disiapkan dari para relawan yang sudah kehilangan suami. Ide ini diinisiasi untuk tetap membantu mereka tetap bekerja selama Ramadan. Kami dapat menyajikan 300 porsi setiap hari dan dibagikan kepada para pengungsi di kamp serta mereka yang prasejahtera,” terang Koordinator Dapur Najla Bitar, dilansir dari AFP.[]


Bagikan