Ramadan Lalu, 1.000 Ton Beras Kuatkan Pangan Pengungsi Suriah

Kapal Kemanusiaan Suriah 2018 menyambut Ramadan dengan paket pangan

Ramadan Lalu, 1.000 Ton Beras Kuatkan Pangan Pengungsi Suriah' photo

ACTNews, JAKARTA – Sauh telah ditarik ke tempat asalnya di atas kapal. Sirine mendengung, mengalihkan kebisingan lain seantero Pelabuhan Belawan, Medan. Lambaian tangan serta doa mulai sering dipanjatkan mengantarkan keberangkatan Kapal Kemanusiaan Suriah dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), Sabtu (21/4/2018) silam.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya Ahad (15/4/2018), sebuah acara akbar di Masjid Raya Baiturrahman, Aceh diadakan. Masyarakat dari berbagai penjuru Aceh dan sekitarnya datang ke masjid yang menjadi saksi bisu Tsunami Aceh 2004 lalu itu. Mereka siap melepas keberangkatan seribu ton beras dari Aceh yang akan berlayar ke Suriah.

Menempuh jarak 9.369 kilometer jauhnya atau jika dihitung waktu selama satu bulan, kapal dari Belawan itu melabuhkan diri di Pelabuhan Assan, Kota Iskenderun, Provinsi Hatay, Turki. Pelabuhan itu merupakan lokasi terdekat dengan perbatasan Suriah dan Turki. Tepat pada Senin (21/5/2018) atau masuk hari ke-5 Ramadan, kapal melabuh. Menurunkan muatan seberat seribu ton beras untuk pengungsi Suriah.

Abu Ubaidah yang merupakan mitra ACT di Turki mengatakan, ada dua pola distribusi beras Kapal Kemanusiaan yang diterapkan. Untuk 500 ton akan langsung dikirim ke dalam Suriah, tepatnya wilayah Aleppo, Hama, dan paling besar di Idlib. Sedangkan 500 ton lagi didistribusikan untuk pengungsi Suriah yang berada di perbatasan Turki. “Yang ke Suriah langsung dibawa dengan truk, sedangkan yang di Turki sementara disimpan di Indonesia Humanitarian Center yang ada di Reyhanli,” jelas Abu Ubaidah pada awal April 2018 lalu.

Selama Ramadan 2018, puluhan relawan ACT di Turki dan Suriah secara bertahap mendistribusikan beras untuk pengungsi Suriah. Selain beras, warga Suriah yang ada di wilayah konflik maupun yang mengungsi di Turki mendapatkan roti dan penganan pemenuh gizi lainnya.

Di Idlib tahun 2018, tepatnya akhir April yang juga menjelang Ramadan tiba, konflik belum usai. Bulan suci itu merupakan tahun ke-7 bagi warga Suriah menjalani Ramadan di tengah deru konflik yang melanda salah satu Negeri Syam itu.

Mohammed Hasan, salah satu relawan ACT di Suriah mengatakan, banyak warga Suriah yang pesimis menjalani ibadah puasa dengan tenang di tengah ancaman serangan yang tak kenal aba-aba. “Masyarakat Suriah membutuhkan banyak bantuan, tak hanya pangan,” jelas Hasan, April 2018 lalu.



Kepedulian yang tak putus

Ramadan 1440 H (2019) turut menyapa muslim di Suriah. Namun, kondisi pengungsi yang ada di perbatasan negara tetangga serta di dalam Suriah seperti Idlib, tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

Melanjutkan tugas kemanusiaan, ACT di Ramadan ini juga terus mendampingi masyarakat Suriah. Dua pabrik roti yang ada di Idlib tiap harinya akan memasok 20 ribu lembar roti, termasuk selama Ramadan hingga beberapa bulan ke depan.

Selain dua pabrik roti yang tersedia, sebelum Ramadan, tepatnya Ahad (5/5), ACT juga mendistribusikan paket pangan kepada pengungsi Suriah yang ada di Reyhanli, Turki. Bertempat di salah satu rumah yatim, bantuan rutin ini akan membantu memenuhi kebutuhan pangan warga Suriah. “Masyarakat Indonesia melalui ACT rutin memperhatikan kami warga Suriah yang mengungsi atau bertahan di dalam (Suriah), berbagai bantuan rutin kami terima, dari musim dingin, roti, hingga biaya untuk pembangunan,” ungkap salah satu pengelola rumah yatim di Reyhanli. []

Bagikan