Ramadan Penuh Duka di Yaman

Yaman harus menjalani Ramadan dengan rasa penuh duka

Ramadan Penuh Duka di Yaman' photo

ACTNews, HODEIDAH - Hari pertama Ramadan di Yaman, dimulai pada Senin (6/5), sama seperti hampir seluruh umat Muslim di dunia. Satu bedanya, Yaman harus menjalani Ramadan dengan rasa penuh duka, sebab perang telah memicu Yaman terperosok dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia.


Krisis di Yaman sudah berlangsung menahun, namun belum juga menampakkan tanda membaik atau berjeda. Kini, di awal Ramadan, perang dan pertempuran semakin mendorong jutaan penduduk Yaman masuk ke ambang kelaparan. Seperti yang dialami Mohammad Abkar dan keluarga.


Abkar dan keluarga harus menghabiskan bulan suci Ramadan di sebuah kamp pengungsian. Kamp itu bernama Khoka, terletak sekitar 130 kilometer sebelah selatan Hodeidah. Sudah terlewat satu tahun, Abkar dan keluarga terusir dari kediaman mereka di Desa Al-Munther, Hodeidah, Juni 2018 lalu.


“Kami sudah setahun penuh mengungsi di Kamp Khoka, dan sekarang pun kami masih di sini. Kami akan tetap sabar dan serahkan pada Allah,” kata Abkar.


Abkar juga mengulas kembali ingatan ketika ia harus pergi dari rumahnya. Abkar pergi dengan pakaian seadanya, ditambah kruk yang sangat ia butuhkan untuk berjalan. Ya, Abkar dan ketiga anaknya mengalami keterbatasan fisik. “Saya dan anak-anak cacat, itulah sebabnya kami tidak bisa bekerja,” jelasnya.



Ketidakmampuan Abkar dan keluarga untuk bekerja membuat kondisi mereka serba sulit dan terbatas di Kamp Khoka. Belum lagi harga kebutuhan pokok di Yaman semakin mahal belakangan, menambah kesulitan bagi penduduk prasejahtera, termasuk Abkar, selama menjalankan Ramadan.


“Dulu, di rumah, kami bisa membeli semua jenis makanan selama bulan Ramadan, tetapi tahun ini kami tidak mampu,” tambah Abkar.


Awalnya, Abkar mengira dapat kembali ke rumah saat Ramadan tiba. Namun, Abkar khawatir bakal terjadi lagi pertempuran di Hodeidah, yang membuatnya terjebak dalam baku tembak untuk kedua kalinya. Ya, Hodeidah kerap menjadi pusat pertempuran.


Padahal Hodeidah sendiri memiliki sebuah pelabuhan yang menjadi pintu utama bagi kehidupan seluruh penduduk Yaman. Sehingga, harapannya hanya satu: semua pihak yang terlibat dalam pertempuran dapat mematuhi gencatan senjata, setidaknya selama bulan Ramadan.


Siapkan iftar dan paket pangan di Yaman



Ramadan sudah berlalu di hari ke-2, namun kondisi hari-hari berpuasa di Yaman tetap dalam kritis. Atmosfer perang tetap berada dekat sekali dalam kehidupan warga Yaman. Bahkan untuk sekadar melengkapi hidangan sederhana sahur dan berbuka, tak pernah mudah bagi 28 juta lebih populasi Muslim di Yaman.


Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response - ACT mengatakan, ACT akan kembali menjangkau Yaman pada Ramadan kali ini. Untuk Yaman, ada makanan siap santap untuk iftar dan sahur, juga ada paket pangan untuk memenuhi kebutuhan pokok dapur mereka.


“Insya Allah, kami akan mengupayakan yang terbaik untuk Yaman. Mohon doa seluruhnya kepada sahabat, semoga kami bisa terus menyampaikan kedermawanan Indonesia,” tutur Faradiba. []


Sumber foto: Dok. ACT, New Straits Times

Bagikan