Rasa Syukur Lansia Penyintas Gempa Lombok di Masa Pemulihan

Rasa Syukur Lansia Penyintas Gempa Lombok di Masa Pemulihan

ACTNews, LOMBOK UTARA - “Allohumma sholi’ alaa Muhammad wa alaa ali Muhammad. Terima kasih ACT, semoga kalian semua selalu sehat dan panjang umur,” tutur Aisyah (59) dan Sya’ban (65), lansia penyintas gempa asal Dusun Lakorban, Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. 

Penuturan syukur dan terima kasih itu selalu terdengar ketika tim Aksi Cepat Tanggap kembali menyambangi kediaman mereka. Sudah lebih dari satu bulan, tim Mobile Social Rescue dan Medis ACT menjalani rutinitas penanganan dan perawatan untuk mereka di sela-sela fase pemulihan Lombok.  

Pertama kali bertemu dengan Aisyah dan Sya’ban pada saat tim sedang melakukan pengerahan fase pemulihan di Kecamatan Bayan. Koordinator MSR-ACT Nurjannatunaim mengisahkan, ketika tim mendatangi kediaman mereka, aroma tidak sedap tercium bahkan dari kejauhan. 

Rupanya baik Aisyah maupun Sya’ban sedang menderita luka. Kaki keduanya sempat tertimpa bangunan rumah mereka yang runtuh. NaHasnya, mereka berdua memiliki riwayat penyakit diabetes melitus. Sekarang mereka mengalami disabilitas gerak, sama-sama tidak bisa berjalan. 

Luka yang tak sempat mendapat penanganan pun semakin parah. “Apalagi nenek Aisyah, lukanya melebar dan buat kakinya menjadi bengkak. Ditambah ia juga menderita kekakuan pada tulang pinggulnya. Kalau kakek semakin parahnya karena ia juga menderita Glaukoma, gangguan penglihatan,” kata Nur. 

Penderitaan Aisyah dan Sya’ban bertambah ketika mereka kehilangan tempat tinggalnya. Terpaksa mereka tinggal di sebuah berugak, bilik adat khas Lombok yang terletak di depan rumah mereka yang sudah rata dengan tanah. Hanya berdua, sebab mereka tidak memiliki sanak saudara.

Tak ingin melihat Aisyah dan Sya’ban semakin menderita, Tim Medis ACT langsung melakukan penanganan. Mulya, salah satu anggota tim yang menangani luka Aisyah dan Sya’ban, mengatakan, awalnya kaki Aisyah bahkan hanya ditutup dengan menggunakan pembalut wanita. 

Dari sanalah bau yang menyengat timbul, sebab luka yang sudah basah karena penutup lama tidak diganti. Sejak saat itu, tim rutin membersihkan dan merawat luka Aisyah dan Sya’ban. “Kami juga rutin melakukan pengecekan gula darah untuk memastikan bahwa kadarnya terkontrol dengan baik,” ujar Mulya. 

Di samping pendampingan kesehatan, ACT juga memberikan kursi roda dan kruk (tongkat) untuk membantu mereka melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini mengingat keadaan mereka yang lanjut usia dan hanya tinggal berdua saja di bilik yang sangat sederhana.

“Insya Allah kami akan terus kembali menemui mereka. Kami sudah berkomitmen, dua kali dalam seminggu akan mengontrol kondisi mereka,” ungkap Mulya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali