Ratusan Buruh Gendong di Pasar Beringharjo Dapat Paket Pangan Lebaran

Rabu (12/5/2021), ratusan paket pangan lebaran dibagikan kepada 215 buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

buruh gendong
Buruh gendong di Pasar Beringharjo mendapatkan bingkisan lebaran, Rabu (12/5/2021). (ACTNews)

ACTNews, YOGYAKARTA - Larangan mudik tahun ini datang bersamaan dengan pandemi, membuat kondisi ekonomi sebagian masyarakat semakin terpuruk. Di Pasar Beringharjo Yogyakarta misalnya, pasar yang sebelumnya selalu ramai dipenuhi para pedagang, pembeli, dan pengunjung, kini terlihat sepi hingga cukup banyak kios dan lapak yang terpaksa tutup.

Menurunnya kuantitas pengunjung pasar tidak hanya dirasakan para pedagang, namun juga para buruh gendong atau kuli panggul. Di Pasar Beringhajo, ada sekitar 200 buruh gendong yang bekerja mencari nafkah. Sebelum pandemi melanda mereka bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp50 ribu per hari. 

“Kalau sekarang mencari satu, dua pedagang atau pengunjung yang mau menggunakan jasa gendongan sudah makin sulit,” ungkap Ponirah (63), salah satu buruh gendong Pasar Beringharjo, Rabu (12/5/2021). 

Akibatnya, para buruh gendong di Pasar Beringharjo ini harus pergi-pulang dari Kulonprogo menuju Yogyakarta, yang terkadang tanpa membawa uang sedikit pun. Kondisi ini mendorong ACT DI Yogyakarta, Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) dan Polresta Yogyakarta untuk berbagi kebahagiaan Idulfitri bagi para buruh gendong di Pasar Beringharjo. Rabu (12/5/2021), ratusan paket pangan lebaran lebaran dibagikan kepada 215 buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. 

Nampak raut wajah bahagia dari para buruh gendong tersebut. Dengan penuh antusias, mereka mengantre untuk mengambil bingkisan lebaran yang telah disediakan.

Danang dari Tim Program ACT DI Yogyakarta melaporkan, bingkisan lebaran untuk buruh gendong merupakan wujud kepedulian dan syukur masyarakat Indonesia menjelang Idulfitri. Apalagi ketika pandemi masih berlangsung dan amat berdampak pada pendapatan buruh gendong.

“Selain buruh gendong, bantuan juga diberikan kepada para pekerja transportasi seperti sopir, kernet, hingga buruh angkut yang turut terdampak dari adanya kebijakan pelarangan mudik selama pandemi,” jelas Danang. []