Ratusan Paket Pangan Jangkau Rohingya di Myanmar

Ratusan Paket Pangan Jangkau Rohingya di Myanmar

Ratusan Paket Pangan Jangkau Rohingya di Myanmar' photo

ACTNews, SITTWE - Menjalani hari-hari dengan berbagai bentuk keterbatasan, etnis Rohingya hidup hanya bertumpu pada bantuan kemanusiaan dan harapan untuk hidup di negeri yang damai. Tak jarang dari mereka yang gagal melarikan diri ke Bangladesh, mencoba bertahan di Myanmar dengan segala rasa cemas dan trauma. 

Kota Sittwe jadi salah satu saksinya. Meski letaknya di tengah kota, warga Rohingya di sana berada jauh dari hiruk pikuk kehidupan. Sekiranya ada 200.000 jiwa yang masih bertahan di Kota Sittwe.

Berbagai bahan pangan kembali disalurkan kepada warga Rohingya yang masih bertahan di Sittwe. Dari masyarakat Indonesia, 300 paket pangan ini diantarkan Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Rohingya, Kamis (8/11). Ratusan paket pangan ini menjangkau warga Rohingya di Desa Aung Minglar, Sittwe. 

Koordinator Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Rohingya Rahadiansyah mengungkapkan, tidak mudah agar bisa memasuki Kota Sittwe. Apalagi bagi lembaga-lembaga yang membawa bantuan kemanusiaan.  “Alhamdulillah, ACT berkesempatan masuk ke dalam Kota Sittwe, Myanmar yang semuanya berpenduduk 100% Muslim. Tentu semuanya berkat dukungan dan doa masyarakat Indonesia,” tutur Rahadiansyah. Siang itu, paket pangan berupa 50 kilogram beras, terigu, minyak, bawang, rempah-rempah, dan lainnya, diberikan kepada ratusan keluarga di Desa Aung Mingalar.

Desa Maung Mingalar sendiri berpenghuni 1.200 keluarga atau setara 4.200 jiwa. Desa ini merupakan salah satu wilayah kepungan pemerintah Myanmar. Di sana mereka tidak memiliki akses untuk bekerja, sehingga tidak ada pendapatan untuk bertahan hidup.

 

Ironisnya, bantuan kemanusiaan pun sempat tidak diperbolehkan masuk ke dalam Myanmar. Bahkan, tidak hanya tentang pemenuhan kebutuhan pangan, mereka juga mengalami blokade pendidikan serta kesehatan. 

Menyaksikan langsung penderitaan Rohingya di Myanmar, bukti jelas bahwa mereka masih membutuhkan uluran tangan sesama yang dermawan. Hingga hari ini, tidak bisa dipungkiri Indonesia menjadi salah satu negara yang berkesan baik bagi mereka. Tiada henti mereka tuturkan rasa syukur ketika paket pangan sudah di tangan.  

Aeesyah, salah seorang Muslim Rohingya di Desa Aung Mingalar menuturkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Indonesia melalui ACT.  “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Indonesia yang telah membantu kami. Semoga Allah menerima kebaikan kalian semua, semoga Allah terus memberi kemudahan setiap kali kalian ingin membantu orang-orang yang membutuhkan. Terima kasih Indonesia,” katanya. 

Pemulangan pengungsi Rohingya di Bangladesh ke Myanmar 

September 2018, Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menentang kesepakatan baru antara Myanmar dan Bangladesh untuk memulangkan ribuan pengungsi Rohingya tanpa adanya jaminan keamanan. Menurut UNHCR, kondisi tidak kondusif bagi pengungsi untuk pulang dengan aman dan bermartabat ke negara yang mereka tinggalkan lebih dari setahun lalu guna menghindari penganiayaan dan kekerasan. 

Selama lebih enam generasi, etnis Rohingya hidup tanpa kewarganegaraan. Apabila tetap dipulangkan, UNHCR mewajibkan adanya jaminan keamanan warga Rohingya, selain hak mendapatkan kewarganegaraan, kebebasan bergerak, akses ke pendidikan dan layanan dasar lain bagi seluruh penduduk. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan