Ratusan Pengungsi Gempa Lombok Barat Positif Terjangkit Malaria

Ratusan Pengungsi Gempa Lombok Barat Positif Terjangkit Malaria

ACTNews, LOMBOK BARAT - Pengungsi gempa Lombok Barat kembali mengabarkan berita duka. Beberapa minggu terakhir mereka mengalami bencana baru, mereka terserang wabah malaria. Wabah tersebar cepat di tiga kecamatan yakni Kecamatan Gunung Sari, Kecamatan Batu Layar, dan Kecamatan Lingsar. Kini, sampai laporan ini diunggah tercatat 137 pengungsi telah dinyatakan positif terjangkit malaria.

Akibat tingginya jumlah penderita, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat bahkan telag menetapkan status wabah malaria menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) sejak Jumat (14/9). Menurut Bupati Kabupaten Lombok Barat Fauzan Khalid, pengukuhan status KLB tersebut karena sudah memenuhi 4 dari 5 kriteria.

“Mulai dari adanya kenaikan jumlah kasus yang bermakna, hasil konfirmasi data melalui metode Mass Faver Survey (MFS) di lapangan ditemukan penderita positif malaria tropicana dominan, ada kasus bayi yang positif, hingga timbulnya keresahan masyarakat karena malaria,” papar Fauzan.  

Fauzan mengungkapkan, pemerintah pun sudah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Lombok Barat untuk menentukan langkah pencegahan penyebaran. Pihaknya telah melakukan beberapa tindakan, di antaranya mengambil sampel darah, membagikan kelambu, dan gencar melaksanakan pengasapan atau fogging.

Menanggapi status KLB Malaria di Lombok Barat, Tim Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT) dr. Muhammad Riedha Bambang yang sedang berada di Lombok melaporkan, terdapat satu desa endemik malaria yaitu Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunung Sari. Desa yang juga menjadi salah satu wilayah terdampak gempa 7.0 SR. Desa yang sebagian besar warganya tinggal di tenda-tenda darurat.

“Info itu dilansir oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sebanyak 93 orang di Desa Bukit Tinggi sudah dinyatakan positif terjangkit malaria. Jumlah terbanyak jika dilihat dari jumlah total yang sebanyak 137 orang,” jelas dr. Riedha.

Selain daerahnya yang memang endemik malaria, kondisi diperburuk karena warga masih tinggal di tenda pengungsian, kemungkinan mereka tergigit nyamuk menjadi lebih tinggi. Dengan begitu tim Medis ACT mengadakan pertemuan dengan Dinas Kesehatan Lombok Barat, Senin (17/9). Kata dr. Riedha, pertemuan itu melahirkan kolaborasi antara ACT dengan Dinkes Lombok Barat dalam penanganan KLB Malaria.  

“Saat ini fokus Dinkes ke 4 wilayah, Penimbung, Meninting, Gunungsari, dan Sigerungan. Tim Medis ACT pun sedang melanjutkan koordinasi dengan Puskesmas di 4 wilayah itu,” tutur dr. Riedha. []

Sumber gambar: Kemenkes

Tag

Belum ada tag sama sekali