Ratusan Ribu Liter Air Terdistribusi di Awal Kemarau

Musim kemarau tiba lebih cepat, membuat kekeringan di beberapa daerah di Indonesia, terlebih di Pulau Jawa. Merespons keadaan itu, ACT mendistribusikan air bersih sejak awal Juli. Ratusan ribu liter air bersih telah diterima belasan ribu jiwa di Indonesia.

Ratusan Ribu Liter Air Terdistribusi di Awal Kemarau' photo

ACTNews, JAKARTA Musim kemarau tengah melanda beberapa wilayah Indonesia sejak Mei lalu. Kemarau ini disebut datang lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya. Fenomena hari tanpa hujan melanda berbagai daerah, menyebabkan kekeringan yang belum sempat diantisipasi warga.

Merespons keadaan itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak awal Juli mulai mendistribusikan air bersih ke berbagai daerah yang dilanda kekeringan. Per 17 Juli 2019, ACT telah mendistribusikan 198 ribu liter air bersih selama musim kemarau 2019.

Ryan Andriana Rachman dari tim Global Zakat-ACT mengatakan, ratusan ribu liter air bersih didistribusikan ke Lampung, Bali, dan seluruh wilayah Jawa yang terdampak kekeringan. Secara bertahap, air bersih diberikan ke 12 kabupaten/kota yang sudah berminggu-minggu kesulitan mendapatkan air bersih. 

“Air bersihnya kami distribusikan merata ke puluhan desa di 12 kabupaten/kota itu. Dalam pelaksanannya, kami melibatkan 114 relawan, dibantu pihak pemerintah setempat dan warga,” jelas Ryan, Kamis (18/7).


Pendistribusian air bersih terkini menyasar Kampung Babakan, Desa Warungjeruk, Tegalwaru, Purwakarta.  Selasa (16/7), 8 ribu liter air bersih diberikan untuk 200 kepala keluarga yang terdampak kekeringan.

Di musim kemarau ini, sumur warga Kampung Babakan mengering, sehingga warga mengandalkan sungai sebagai sumber air. Namun, jarak sungai tersebut mecapai 1 kilometer dari permukiman dan kondisi ini menyulitkan warga. Belum lagi area persawahan mereka juga mengering, sehingga selama kemarau warga umumnya merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib.

Sampai saat ini pun proses pendistribusian air bersih terus berlangsung. Kamis (18/7), sebanyak 75 ribu liter air bersih didistribusikan ke wilayah Tanjungsari, Rongkop, dan Girisubo di Kabupaten Gunungkidul. Kabupaten ini telah beberapa bulan terakhir kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau di awal musim.


Sepanjang musim kemarau ini setidaknya 3.533 kepala keluarga atau 17.795 jiwa telah menikmati air bersih yang didistribusikan ACT. Mereka umumnya mengalami kesulitan mendapat air bersih karena sumur-sumur telah mengering. Hanya sungai yang menjadi sumber air, walau jaraknya dari permukiman cukup jauh.

Misalnya saja di Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali. Arif Marsudi dari Tim Program ACT Bali pada awal Juli lalu menuturkan, warga yang hidup di lereng Gunung Agung itu mengalami krisis air. Mereka harus turun gunung untuk mendapatkan air bersih. “Medan yang sulit berupa jalan naik-turun serta berkelok juga jauh harus warga tempuh demi mendapatkan air bersih,” katanya. []

Bagikan