Ratusan Ribu Muslim Rohingya Terisolir di Zona Konflik

Rohingya kembali terperangkap di zona konflik yang fatal.

Ratusan Ribu Muslim Rohingya Terisolir di Zona Konflik' photo

ACTNews, BUTHIDAUNG – Diperkirakan hingga dua ratus ribu orang Muslim Rohingya terjebak di “zona genosida”. Mereka tinggal di wilayah paling utara Rakhine, perbatasan Myanmar dan Banglades. Warga Rohingya itu tidak dapat pergi ke mana pun. Di sebelah utara, militer Myanmar telah memasang ranjau darat di perbatasan. Sedangkan, jika mereka pergi ke selatan, khawatir akan ditangkap para tentara Militer, yang disebut PBB sebagai pelaku pembersih etnis (ethinic cleansing) pada 2017-2018.

“Beberapa hari lalu, kapal tempur Myanmar menyerang salah satu desa di Buthidaung,” ujar Ketua Komite Kesejahteraan Rohingya di Negara Bagian Rakhine Mohammed Saleh kepada TRT World, sebagaimana diberitakan Rabu (24/4). Ribuan orang meninggal dunia. Puluhan orang lain luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit di Buthidaung, yang mulai kehabisan obat-obatan dan anestesi.

Isolasi membuat penduduk yang masih tinggal di wilayah-wilayah konflik tidak dapat mengakses bahan makan untuk menyambung hidup. Selasa (23/4), Aksi Cepat Tanggap bersama Kitabisa.com menyampaikan amanah masyarakat Indonesia untuk membantu para Muslim Rohingya di Buthidaung. Bantuan tersebut diimplementasikan melalui program “Dapur Umum dan Bantuan Kemanusiaan Kitabisa”.

“Ada 330 kepala keluarga penerima manfaat. Mereka adalah orang-orang Rohingya di Arakan Utara yang terpaksa mengungsi dari desanya ke desa lainnya yang lebih aman karena konflik militer yang melanda desa mereka,” jelas Sucita Ramadinda dari timGlobal Humanity Response - Aksi Cepat Tanggap, Rabu (24/4). Ia pun berharap, bantuan kepada muslim Rohingya mampu meredam dampak krisis kemanusiaan di Buthidaung.


Mohamed Sultan (36), salah seorang penerima manfaat menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Indonesia. Ia pun sangat bersyukur dan bahagia atas bantuan yang diberikan karena ia dan orang-orang di desanya tidak dapat pergi kemana pun.

“Kami bagaikan dalam penjara akibat peperangan yang terjadi. Kami cukup sering mendengar ledakan bom. Bahkan, dua hari yang lalu seorang wanita hamil terluka ketika terjadi perang sipil saat ia sedang melaksanakan salat Zuhur. Kini kami tidak tahu apakah ia masih hidup atau tidak,” cerita Sultan.

Menurutnya, bantuan Dapur Umum dan Bantuan Kemanusiaan itu sangat berarti. “Kami sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan ACT dalam situasi yang sangat mengerikan ini. Selain kami, masih banyak orang-orang yang menderita akibat kelaparan dan tidak dapat pergi kemana-mana. Saya berharap ACT juga dapat memberikan bantuan pangan kepada mereka,” pungkas Sultan. []

Bagikan