Ratusan Sapi Kurban, Hadiah Iduladha buat Warga Mali

Ratusan sapi kurban didistribusikan kepada belasan titik yang tersebar di seluruh Mali. Titik-titik ini sendiri merupakan tempat bermukimnya warga prasejahtera.

Ratusan Sapi Kurban, Hadiah Iduladha buat Warga Mali' photo

ACTNews, MALI – Madrasah di Desa Djoro tersebut, bukan seperti yang lazimnya sekolah yang kita kenal. Dari luar, tembok bangunan tidak halus karena dibangun menggunakan tanah liat. Begitu melongo ke dalam, bukan kursi-kursi kayu yang menjadi tempat siswa mencerap pengetahuan, melainkan batu-batu batako yang berjejer di depan papan tulis.

Pada Ahad (11/8) lalu, lapangan madrasah tersebut ramai dikunjungi warga karena menjadi salah satu tempat pemotongan hewan-hewan kurban dari Global Qurban. Sapi-sapi adalah amanah dari para dermawan di Indonesia. Hari itu di Desa Djoro, sebanyak 25 sapi didistribusikan di desa yang terletak di Provinsi Ségou tersebut.

“Kalau di wilayah Djoro sendiri pada Iduladha tahun ini, kita alokasikan sebanyak 25 sapi. Sedangkan untuk seluruh wilayah di Mali sendiri, itu sudah kita sediakan ratusan sapi yang akan kita sebar di beberapa titik,” jelas Firdaus Guritno dari tim Global Qurban-ACT, pada Jumat (16/8) lalu.

Titik-titik penyembelihan tersebut, kata Firdaus, terbagi menjadi belasan titik di Mali. Selain Djoro, penyembelihan juga dilakukan di Kota Segou, Kota Kita. Demikian juga di ibu kota Mali, yakni Bamako, yang terbagi menjadi empat titik pemotongan.

Titik-titik di wilayah tersebut dipilih karena merupakan tempat di mana banyak warga prasejahtera bermukim. Kata Firdaus, masih banyak warga di sana yang kesulitan secara ekonomi dan membutuhkan bantuan pangan.


“Di Negara Mali sendiri memang banyak yang masih tinggal di bawah garis kemiskinan. Mereka umumnya beternak dan bertani, namun belum tentu juga makan daging terus. Bahkan yang bertani juga, berasnya bukan untuk mereka. Mereka jual ke luar, malah dapat beras impor yang kualitasnya lebih buruk dari yang mereka tanam sendiri,” kata Firdaus.

Laporan dari Dewan Pengungsian Norwegia (NRC) pada November 2018 mencatat, 34.000 jiwa di Mali kelaparan dan sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan. Kebanyakan kasus kelaparan sendiri terjadi adalah karena konflik internal yang melanda negara tersebut.

“Alih-alih memberikan bantuan yang menyelamatkan, kami malah menyaksikan para ibu yang menangis karena terpaksa menyaksikan anak-anak mereka kelaparan, dengan risiko kematian. Para ibu tersebut meminta makanan dan bantuan kepada kami, lembaga kemanusiaan. Sekarang kami mengajak kepada tokoh-tokoh internasional untuk memperhatikan mereka,” kata Hassane Hamadou, Country Director untuk NRC di Mali.

Belum lagi persoalan cuaca. Laporan dari badan anak-anak PBB, UNICEF pada Mei 2018 menyatakan, lebih dari lima juta orang di wilayah Sahel, Afrika Barat, memerlukan bantuan makanan untuk mencegah kelaparan akibat kekeringan. Wilayah-wilayah yang paling berisiko antara lain Niger, Burkina Faso, Chad, Mauritania Selatan, dan Senegal Utara, dan tentu saja, Mali.


Badan PBB tersebut memperkirakan, sedikitnya 1,3 juta paket makanan terapetik diperlukan untuk menyelamatkan warga yang paling rentan. Namun, warga Sahel baru mendapatkan 700 ribu paket pada tahun itu. Demikian kondisi yang terjadi di belahan Afrika sana dan benar-benar membutuhkan bantuan. Firdaus oleh karenanya merasa sangat berterima kasih kepada para dermawan yang telah memberikan hadiah Iduladha ini kepada saudara-saudara muslim di Mali.

“Semoga kurban yang kita bagikan dapat menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Mali di Iduladha ini. Terima kasih kepada para dermawan yang telah memberikan kurban-kurban terbaik mereka untuk masyarakat Afrika,” kata Firdaus. []

Bagikan