Ratusan Sumur Wakaf Menjadi Solusi Krisis Air di Indonesia

Sepanjang program ini dilaksanakan sejak tahun 2015-2019, Global Wakaf telah membangun 363 titik sumur yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia. Semua Sumur Wakaf tersebut mengalirkan air untuk 380.423 jiwa.

Ratusan Sumur Wakaf Menjadi Solusi Krisis Air di Indonesia' photo
Untuk jangka panjang kekeringan, diperlukan solusi seperti embung, penampungan air, atau sumur di samping distribusi air. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA - Air adalah kehidupan dan menjadi kebutuhan dasar manusia. Manusia tidak akan bisa beraktivitas tanpa adanya air. Namun kenyataannya di beberapa daerah, kebutuhan dasar ini malah sulit untuk diperoleh. Kekeringan yang melanda Indonesia beberapa  bulan belakangan jadi penyebabnya.

Awal November hujan dengan intensitas rendah memang sudah mulai turun. Namun, hujan yang mengguyur belum mengatasi dampak sisa kekeringan musim kemarau kemarin secara signifikan. Dilansir dari Tirto.id, pada Agustus lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut 92 persen wilayah Indonesia dilanda kemarau.

Ada beberapa wilayah mengalami hari tanpa hujan ekstrem, yaitu tidak ada hujan hingga lebih dari 60 hari seperti di seluruh Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Bahkan untuk wilayah perkotaan seperti Jakarta Utara pun mengalami kekeringan pada bulan Juli dan Agustus, yang berdampak pada kualitas air sumur. Status daerah yang mengalami 60 hari lebih tanpa hujan (HTH) digolongkan oleh BMKG memasuki status ‘Awas’ dan BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi hal ini.

“Barangkali dampaknya tidak hanya ke pertanian yang membutuhkan irigasi, tetapi bisa jadi HTH yang panjang ini mengakibatkan daerah yang rawan kekeringan juga akan mengalami kekurangan air bersih untuk penghidupan masyarakat sehari-hari,” tutur Adi Ripaldi selaku Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG ditemui ACTNews, pada pertengahan Juni silam.


Air dari Sumur Wakaf dapat dimanfaatkan untuk memproduktifkan lahan pertanian. (ACTNews/Reza Mardhani)

Adi juga menjelaskan antisipasi seperti distribusi air dapat menjadi langkah konkret untuk mengatasi wilayah-wilayah yang sudah mulai mengalami kesulitan air. Meskipun begitu, pendistribusian air bukanlah solusi jangka panjang. Adi menyarankan untuk antisipasi yang lebih bertahan lama.

“Untuk wilayah-wilayah yang tadah hujan misalkan, artinya wilayah tersebut benar-benar hanya mengandalkan hujan. Kita sudah memperkirakan kapan kemarau mulai dan akan berapa lama berlangsungnya. Wilayah tersebut mestinya bersiap, mungkin mempersiapkan embung, atau sumber-sumber air yang dapat menggantikan ketika hujan berhenti,” pungkas Adi.

Oleh karenanya, solusi jangka panjang juga telah diinisasi Global Wakaf melalui program Sumur Wakaf. Sepanjang program ini dilaksanakan sejak tahun 2015-2019, Global Wakaf telah membangun 363 titik sumur yang tersebar di sebanyak 23 provinsi di Indonesia. Semua sumur itu mengalirkan air kepada tidak kurang dari 380.423 jiwa. Sumur-sumur ini berasal dari uluran tangan para dermawan yang bersedia memberikan harta terbaiknya agar masyarakat yang lain tidak kesulitan.

“Selama airnya masih ada, maka Sumur Wakaf ini akan terus produktif terus. Kita bisa bagikan kepada masyarakat banyak untuk pertanian, minum, taharah dan sebagainya,” kata Aditya Pratama selaku Head of Strategic Global Wakaf. Terutama pada aktivitas pertanian yang memerlukan terus air agar lahan yang digarap dapat tetap hidup.

Seperti halnya harapan Rusti Widayati, salah satu wakif sumur di Global Wakaf yang tidak ingin masyarakat menderita karena kekurangan air. Sebab, wanita yang berprofesi sebagai pengusaha itu tahu betul bagaimana rasanya kekurangan air.


Infografis sebaran Sumur Wakaf yang ada di seluruh Indonesia. (ACTNews)

“Jadi lewat Global Wakaf, saya ingin membantu saudara-saudara kita yang kesulitan mendapatkan air. Karena saya sudah merasakan betul, bagaimana rasanya ketika kita kesulitan air. Saya tidak ingin hal tersebut terjadi juga dengan saudara-saudara kita,” ujar Rusti.

Rusti berharap, Sumur Wakaf Keluarga yang telah ia dermakan dapat mencapai daerah yang berada di pelosok negeri. Ia prihatin membayangkan bagaimana air bersih sulit diperoleh oleh saudara-saudara yang terbatas dalam hal akses. []

Bagikan