Rekam Jejak 2019: Ikhtiar ACT Atasi Persoalan Kemanusiaan

Selama 2019, ACT terus berkiprah membantu korban bencana hingga meluncurkan banyak program-program pemberdayaan masyarakat, serta menginisiasi program pengentasan kemiskinan.

Rekam Jejak 2019: Ikhtiar ACT Atasi Persoalan Kemanusiaan' photo
Program-program pemberdayaan semakin banyak karena ancaman bukan hanya bencana saja, tetapi persoalan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Seperti Lumbung Beras Wakaf (LBW) yang diluncurkan pada Desember lalu. (ACTNews

ACTNews, JAKARTA – Tahun 2019 menjadi tahun ke-15 ACT berkiprah di dunia kemanusiaan. Selain tetap membantu masyarakat yang terdampak oleh bencana, ACT terus membersamai warga prasejahtera melalui program-program yang dimotori oleh kedermawanan masyarakat.

Direktur Komunikasi ACT Lukman Azis Kurniawan menjelaskan banyak program-program kemanusiaan baru yang bergulir pada 2019. Terutama untuk program-program pemberdayaan masyarakat prasejahtera.

“Karena ancaman kita tidak hanya bencana saja, tetapi persoalan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi yang nyata kita hadapi sekarang ini. Oleh karena itu, kita menginisiasi beberapa program yang tujuannya memberdayakan masyarakat-masyarakat prasejahtera juga agar problem ini bisa kita atasi bersama,” kata Lukman pada Selasa (31/12).

Program ini juga berkaitan satu sama lainnya, sehingga Lukman berharap, program-program ini nantinya dapat berjalan berkesinambungan. Sehingga nantinya, seluruh program ACT dapat berintegrasi satu sama lain.

“Jadi antarprogram juga saling mengisi, ada keterkaitan dari hulu sampai ke hilirnya,” jelas Lukman. Berikut adalah beberapa aksi ACT dan program-program yang terangkum selama 2019.

Kebencanaan

Awal tahun 2019 dibuka dengan duka dari Indonesia Timur. Banjir bandang menerjang sembilan kelurahan di Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (16/3) malam. Banjir diperkirakan terjadi akibat tingginya intensitas hujan yang mengguyur Kecamatan Sentani pada pukul 18.00 WIB.


Sisa-sisa bangunan yang sampai ke sebuah jalan kala banjir menerjang Sentani. (ACTNews)

Dikutip dari laporan CNN Indonesia, banjir bandang di Sentani menelan korban jiwa sebanyak 112 orang. Tak hanya menelan korban dari Distrik Sentani, banjir bandang juga menimbulkan korban dari Distrik Waibu, Sentani Barat, Ravenirara, dan Depapre. Banjir bandang juga mengakibatkan kerugian mencapai Rp506 miliar. Banjir juga merusak jalan sepanjang 21,9 kilometer, tujuh jembatan, satu pasar, satu sekolah, dan 291 rumah. Sementara laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 6.831 pengungsi tersebar di 15 titik pengungsian. 

ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) langsung bergerak melakukan evakuasi ketika bencana terjadi. Selain melakukan evakuasi, ACT mendirikan Posko Kemanusiaan di Jalan Raya Airport Nendali, Sentani Timur, Jayapura, Papua. Posko tersebut mulai aktif menampung logistik dan pangan untuk didistribusikan kepada warga terdampak banjir. Tim juga mengaktivasi  Dapur Umum berada di Jalan Merak Kotaraja, Abepura, Jayapura.

Selain banjir, kekeringan juga sempat melanda Indonesia hingga kurang lebih setengah tahun lamanya. BMKG sebetulnya telah memperkirakannya pada pertengahan Juli lalu, bahwa kemarau tahun ini relatif

“Kita itu memang sedang El Nino, namun skalanya rendah. Tidak sekuat pada tahun 2015 lalu. Namun demikian, dampak El Nino pada umumnya mengurangi curah hujan. Ketika hujan itu dikurangi, akan lebih terasa dampak El Nino di musim kemarau. Sudah kemarau, ada dampak dari El Nino, ya semakin berkuranglah curah hujan di Indonesia,” kata Adi. 


Distribusi air yang dilakukan di salah satu kawasan terdampak kekeringan terparah di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACT memberikan bantuan berupa air bersih di sejumlah wilayah terdampak kekeringan di Indonesia. Di samping distribusi air, Sumur Wakaf juga terus digalakkan. Global Wakaf – ACT telah membangun 363 titik Sumur Wakaf yang tersebar di sebanyak 23 provinsi di Indonesia. Semua sumur itu mengalirkan air kepada tidak kurang dari 380.423 jiwa. Sumur-sumur ini berasal dari uluran tangan para dermawan yang bersedia memberikan harta terbaiknya agar masyarakat yang lain tidak kesulitan.

Kemarau bukan hanya menyebabkan bencana kekeringan di sejumlah daerah, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Liputan 6 mengutip BNPB, bahwa ada 2.719 titik panas kebakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia per Rabu, 18 September 2019. Titik tersebut tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali.

ACT merespons bencana kebakaran hutan itu dengan mengerahkah armada-armada kemanusiaannya untuk meredam dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Riau. Semua armada diberangkatkan dari Humanity Distribution Center (HDC) di Gunung Sindur, Bogor, pada Senin, 23 September 2019. Armada yang diberangkatkan antara lain, Humanity Food Truck, Humanity Water Truck, Ambulans Pre-Hospital, mobil berpenggerak empat roda serta truk logistik.


Apel yang dilaksanakan di HDC, Bogor sebelum keberangkat armada dan relawan ACT menuju Riau, pada September 2019 lalu. Acara ini sebagai tanda pelapasan tim ACT merespons karhutla. (ACTNews/Muhar Zulfikar)

Selain memberangkatkan armada, ACT juga memberangkatkan relawan yang akan ikut memadamkan api serta melakukan pelayanan medis. Mereka akan bergabung dengan tim yang sebelumnya sudah berada di sana dan akan ditambah dari cabang lain. Senin ini, seratus ton diberangkatkan melalui jalur darat. Logistik yang dibawa berupa beras, gula, air mineral, termasuk obat-obatan.

Memasuki akhir tahun, saudara-saudara di belahan timur Indonesia kembali mengalami musibah. Berkali-kali gempa mengguncang mereka sejak awal November lalu. Gempa besar berkekuatan lebih dari M5,0 berkali-kali mengguncang Kabupaten Maluku Utara.

Gempa pertama mengguncang pada Kamis (14/11) pukul 23.43 WIB, dengan kekuatan M7,4 dan dimutakhirkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi M7,1. Pada gempa pertama, peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan oleh BMKG. Daerah yang berpotensi tsunami berdasarkan permodelan berada di Minahasa-Utara Bagian Selatan (Sulut). Peringatan ini lantas diakhiri pada Jumat (15/11) pukul 01.45 WIB.

Berdasarkan data yang dikumpulkan tim ACT, hingga awal Desember, masih ada lebih dari 7 ribu jiwa menempati titik-titik pengungsian di Maluku, termasuk Desa Waai. Pengungsian ini umumnya ada di perkebunan atau perbukitan tinggi. Warga mengungsi ke wilayah tinggi untuk menghindari gempa susulan. Tercatat lebih dari 2 ribu gempa susulan terjadi di Maluku hingga awal Desember ini. ACT tak henti-hentinya membantu para penyintas untuk terus berjuang di tengah kesulitan. Baik melalui bantuan paket pangan maupun bantuan medis dan obat-obatan.

Krisis Kemanusiaan

Konflik yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, menyebabkan kendaraan dan gedung hancur, puluhan orang luka-luka, bahkan 33 orang meregang nyawa. Menyikapi dampak dari krisis kemanusiaan tersebut, ACT bergerak membantu saudara sebangsa yang mengungsi di tengah ancaman krisis.

Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) - ACT mencatat per 3 Oktober 2019, sebanyak 5.028 jiwa mengungsi. Untuk membantu para pengungsi, ACT mendistribusikan berbagai bantuan. Mulai dari bantuan pangan, medis, hingga kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 13.035 jiwa juga eksodus dari Wamena. ACT turut memfasilitasi ratusan warga yang ingin eksodus, baik melalui penerbangan maupun jalur laut.