Relawan Kapal Ramadhan: Menolong Sesama sebagai Panggilan Jiwa

Kesuksesan pelayaran Kapal Ramadhan Mentawai tidak lepas dari kinerja tim yang baik, termasuk kiprah para relawan.

ACTNews, KEPULAUAN MENTAWAI  – Romi Chandra (28) sudah bersiap sejak Kamis (23/5) malam. Ia tengah mengkoordinir lima truk yang akan mengangkut ribuan paket bantuan pangan Kapal Ramadhan pada Jumat (24/5). Ia dan tim relawan harus bergegas sebab waktu hanya tinggal beberapa jam sebelum keberangkatan Kapal Ramadhan ke Kepulauan Mentawai keesokan harinya.

Keberadaan truk dalam keberangkatan Kapal Ramadhan Kepulauan Mentawai menjadi sesuatu yang tidak kalah penting. Tanpa adanya armada yang satu ini, ribuan paket pangan tidak mungkin sampai ke tangan para penerima manfaat. Truk-truk tim Romi ini pula yang nantinya akan menyusuri daratan di pulau-pulau wilayah distribusi.

Perkenalan Romi dengan dunia kemanusiaan adalah ketidaksengajaan. Saat itu, gempa mengguncang Sumatera Barat. Saat itu, ia mengetahui ada lembaga kemanusiaan bernama Aksi Cepat Tanggap.

“Saya kenal ACT sejak gempa yang mengguncang Padang dan Pariaman tahun 2009 lalu. Awalnya, saya bantu ACT mengantar tenaga konstruksi ke Pariaman,” kata pengemudi asal Batusangkar itu.




Perkenalan Romi dengan ACT pun berlanjut. Ia beberapa kali menjadi relawan kemanusiaan dalam setiap program kemanusiana yang dilakukan ACT. Tahun 2016 pun ia pernah bergabung dengan ACT Sumbar.

Pada pelayaran Kapal Ramadhan 1440 Hijriah ini, Romi bersyukur akan perannya kali ini yang amat bermakna. Ia bukan sekadar mengantar paket logistik biasa, melainkan dalam misi kemanusiaan.

“Ada juga panggilan jiwanya. Sekarang bisa lanjutin panggilan jiwa untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Di samping kita mencari materi, ada juga untuk membantu,” cerita Romi.

Selain Romi, pada pelayaran Kapal Ramadhan Kepulauan Mentawai 1440 Hijriah ini turut pula aktor Donny Alamsyah sebagai relawan kemanusiaan. Pemain film laga itu mengaku, misi kemanusiaan melayarkan Kapal Ramadhan ini baru pertama kali ia lakukan.

“Awalnya saya kagum, saya lihat di media sosial, kegiatan ACT bukan sekadar di Indonesia. Saya berdoa waktu itu, berharap suatu hari bisa ikut andil dalam kegiatan ACT. Dan alhamdulillah, saya dapat kesempatan itu,” ungkap Donny selepas peresmian keberangkatan Kapal Ramadhan di Pelabuhan Bungus, padang, Jumat pekan lalu.




Ia pun berharap misi kemanusiaan memberangkatkan Kapal Ramadhan itu berlangsung lancar. “Saya berharap kegiatan ini tidak akan berhenti pada kesempatan ini. Ke depan, bisa lebih baik dan lebih banyak relawan yang bisa ikut. Saya berharap bantuan ini bisa dibagikan dengan baik.” harap Donny.


Bukan hanya memberi

Tidak berhenti sampai di situ. Peran sejumlah relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) di lokasi distribusi pun tidak kalah penting. Dalam menyukseskan misi kemanusiaan ini, tidak jarang putra dan putri daerah ikut terlibat. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui betul seluk-beluk wilayah distribusi bantuan.

Di pulau Sipora, Kecamatan Sipora Utara, tim ACTNews bertemu dengan Koordinator Daerah MRI Kepulauan Mentawai Tuty Ulyati. Sejak awal tahun 2000, Tuty bermastautin di Kepulauan Mentawai. Ibu enam orang anak itu ikut suaminya yang dinas sebagai dokter di Pulau Siberut. Mereka lalu pindah ke Pulau Sipora tahun  2007.

Tuty pun mengaku sangat bahagia bisa menjadi bagian dari Kapal Ramadhan Kepulauan Mentawai kali ini. “Syukur sudah saya diajak ya. Membantu itu perlu, tabungan untuk akhirat nanti,” aku alumnus UI tahun 1994 itu.




Tuty akrab disapa dengan panggilan ”bunda” oleh anak-anak di Sipora Utara. Ia dan sejumlah ibu-ibu di sana menjadi guru mengaji bagi sejumlah anak-anak dari keluarga mualaf. Dalam pemberian bantuan paket pangan Kapal Ramadhan kali ini, ia berharap tidak hanya membekas secara fisik di masyarakat. Bantuan ini juga diharapkan berdampak pada perubahan mental dari masyarakat yang menerima bantuan menjadi masyarakat pemberi kedermawanan. “Bantuan ini tentu sangat menolong sekali ya. Kami pertama-tama mengucapkan terima kasih. Sekarang kebutuhan sedang naik (harga). Hari juga kerap badai, masyarakat jadi  jarang melaut. Namun yang lebih penting adalah membangkitkan potensi diri, bukan hanya memberi. Perbaikan mental itu tujuannya,” pungkas Tuty. []