Rendahnya Kesadaran Masyarakat Indonesia atas Mitigasi Bencana

Hidup di tengah ancaman gempa membuat masyarakat Indonesia perlu terus waspada. Hingga kini belum ada teknologi yang mampu mengatahui kapan terjadi gempa. Oleh karenanya, mitigasi sangat perlu digalakkan.

Rendahnya Kesadaran Masyarakat Indonesia atas Mitigasi Bencana' photo
Proses pencarian korban likuefaksi di Balaroa, Palu pada September lalu. Likuefaksi ini terjadi seiring dengan gempa besar yang melanda. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Gempa bumi yang memicu tsunami besar terjadi di Aceh pada 2004 silam. Kejadian serupa kemudian terulang pada akhir September 2018, gempa bumi yang memicu tsunami dan likuefaksi terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Aceh dan Palu jelas terlampau jauh secara lokasi, tepaut ribuan kilometer, terpisah di ujung barat dan bagian timur Indonesia. Namun, bencana besar ini seakan menjadi alarm bagi masyarakat, bahwa mereka hidup di bawah bayang-bayang bencana besar, khususnya gempa bumi.

Profesor Ronald A. Harris dari Bringham Young University Uttah Amerika Serikat, Jumat (29/11), mengatakan, setidaknya terjadi dua kali gempa besar  tiap tahunnya di Indonesia. Sedangkan dari catatan tahun 1900-2000, rata-rata di Indonesia terjadi tsunami tiap empat tahun. “Data ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi ini merupakan data yang perlu diketahui masyarakat untuk mitigasi bencana,” ungkap profesor yang telah lama meneliti tentang tsunami dan gempa di Indonesia ini.

Sayang, dari data yang diperoleh terkait aktivitas kegempaan dan tsunami yang terjadi di Indonesia, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya mitigasi. Padahal, dengan mitigasi, korban jiwa akibat bencana dapat diminimalisir. Salah satu faktor kurangnya mitigasi bencana gempa ialah saat ini aktivitas kegempaan Indonesia sedang dalam siklus “tidur”.

Harris menilai, strategi menyelamatkan nyawa atas bencana yang terjadi di Indonesia masih buruk. Hal ini dipengaruhi oleh komunikasi dan implementasi strategi pengurangan risiko yang masih sangat rendah. Buktinya, tiap kali bencana terjadi, korban jiwa yang terdampak sangatlah banyak. Ia mencontohkan gempa M 5,9 yang terjadi di Yogyakarta pada 2006 lalu. Gempa itu tergolong tidak terlalu besar, namun korban jiwanya sangat banyak hingga menyentuh angka lebih dari 6 ribu jiwa.


Lokasi likuefaksi di Balaroa, Palu. (ACTNews)

Korban jiwa saat gempa meninggal bukan akibat guncanganya, akan tetapi bangunan yang tak tak layak dan mudah roboh dan menimpa apapun yang ada di bawahnya. Untuk itu, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, khususnya gempa diminta untuk menyiapakan ruang khusus yang aman saat gempa. “Dengan menguatkan siku atau mengikuti saran yang telah dikeluarkan peneliti, ini menjadi solusi penyelamatan saat gempa terjadi,” jelas Eko Yulianto, peneliti gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat menjadi pemateri di acara seminar bencana gempa dan tsunami di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (29/11).

Eko menambahkan, masyarakat juga dapat mengetahui tentang riwayat bencana gempa dan tsunami masa lalu dengan mempelajari budaya-budaya daerah yang ada atau kearifan lokal. Ia mencontohkan seperti tembang Serat Srinata yang berkaitan dengan legenda Ratu Selatan Jawa. Tembang itu menceritakan bagaimana menyeramkannya kondisi laut yang dianggap tsunami. Lalu ada juga istilah smong yang dikenal di masyarakat Simeulue, Aceh sebagai tsunami. Kedatangan smong  juga ada dalam syair masyarakat setempat.

Kejadian gempa dan tsunami memang kerap terjadi di Indonesia, bahkan telah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Untuk itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan oleh masyarakat, khususnya mereka yang berada di daerah rawan bencana gempa dan tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memetakan, setidaknya ada enam wilayah Indonesia yang disebut dengan seismic gap atau wilayah aktif tektonik tapi jarang terjadi gempa. Wilayah ini yang perlu diwaspadai karena dikhawatirkan menyimpan akumulasi energi gempa.