Resesi Mengintai, Wakaf Uang Menjadi Solusi Pemenuhan Kebutuhan Umat

Resesi ikut mengintai Indonesia setelah ekonominya pada kuartal II 2020 minus 5,32%. Sejumlah pihak mencari jalan keluar dari ancaman resesi. Salah satunya melalui wakaf uang, instrumen filantropi Islam yang keberhasilannya telah terbukti di masa-masa yang lewat.

Resesi Mengintai, Wakaf Uang Menjadi Solusi Pemenuhan Kebutuhan Umat' photo
Seorang petani di sekitar lingkungan Lumbung Pangan Wakaf di Desa Jipang, Blora, sedang memisahkan padi. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTAIndonesia ikut mengamati di pinggir jurang resesi. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinyatakan minus 5,32%. Sementara Singapura jadi contohnya. Negara yang berkembang pesat ini pada akhirnya mengumumkan resesi. Secara kuartalan, ekonomi Singapura di kuartal II 2020 berkontraksi atau minus 41,2%, sementara secara tahunan, PDB anjlok 12,6%. Angka ini melebihi survei sejumlah lembaga dan ekonom.

Angka-angka ini juga tercermin dari dampak yang diterima masyarakat Singapura. Berdasarkan data tingkat pengangguran pada Juni, angka warga yang kehilangan pekerjaan naik ke level tertinggi dalam satu dekade. Bukan hanya itu, jumlah pekerjaan juga tercatat mengalami penurunan kuartalan paling tajam karena pasar tenaga kerja merasakan efek awal Covid-19.

Sejumlah pihak betul-betul memutar otak bagaimana caranya agar Indonesia lepas dari intaian resesi. Filantropi menjadi salah satu solusi dalam menghadapi resesi ini. Salah satunya diutarakan Profesor Raditya Sukmana, salah satu Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Airlangga.

“Perilaku ekonomi ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada mekanisme pasar, namun perlu ada penguatan pada aspek sosial kemasyarakatan. Hal ini mengingat kondisi pandemi ini mengajarkan bahwa ketika roda perekonomian tidak berjalan sebagaimana mestinya, perilaku gotong royong dan donasi sosial atau filantropi seperti zakat dan wakaf dapat menjadi solusi pemenuhan kebutuhan masyarakat di saat darurat, khususnya bagi kaum duafa,” tulisnya dalam artikel berjudul Wakaf Sebagai Kelaziman Baru.


Salah seorang pemulung sedang menatapi Beras Wakaf yang ia dapatkan pada April lalu. (ACTNews/Reza Mardhani)

Secara lengkap ia juga mengemukakan alasan bagaimana wakaf dapat bermanfaat bagi kondisi ekonomi yang sulit saat ini. “Pengelolaan wakaf secara produktif jika dioptimalkan dapat menggerakkan perekonomian dan laba yang dihasilkan dapat diarahkan untuk menjadi sumber pembiayaan berkelanjutan bagi sektor pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat yang diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan secara merata dan komprehensif di masyarakat,” ungkapnya.


Potensi wakaf uang

Wacana menjadikan wakaf sebagai jalan keluar permasalahan ekonomi memang bukan lagi hal baru. Belakangan wakaf yang lumrahnya diketahui oleh masyarakat sebagai aset tak bergerak seperti masjid, kini diperkenalkan juga dalam bentuk uang atau tunai.

Model wakaf ini baru dipraktikkan sejak awal abad kedua Hijriaah. Imam az Zuhri (wafat 124 H), salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits, memfatwakan, dianjurkan wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam.

Sederhananya praktik wakaf uang adalah dengan menyalurkan kas wakaf, baik individu maupun kolektif, kepada aktivitas-aktivitas bisnis. Keuntungan dari hasil investasi tersebut digunakan kepada segala sesuatu yang bermanfaat secara sosial keagamaan.

Model wakaf ini beberapa kali berhasil dalam peradaban. Misalnya dalam jurnal yang berjudul “Dinamika Pengelolaan Wakaf di Negara-Negara Muslim”, Abdurrohman Kasdi pernah menuliskan wakaf uang telah memainkan peranan yang penting dalam menggerakkan roda perekonomian dan memenuhi kebutuhan masyarakat Mesir. Hal ini karena wakaf dikelola secara profesional dan dikembangkan secara produktif.


Perintis wakaf pertama kali di Mesir adalah seorang hakim di era Hisyam bin Abdul Malik, bernama Taubah bin Namir al-Hadrami yang menjadi hakim pada tahun 115 H. Ia mewakafkan tanahnya untuk dibangun bendungan dan manfaatnya dikembangkan secara produktif untuk kepentingan umat.

Wakaf yang dirintis oleh Taubah ini perkembangannya sangat pesat, terutama pada masa kekuasaan Daulah Mamluk (1250-1517). Dibarengi juga dengan pemanfaatannya yang sangat luas untuk menghidupi berbagai layanan kesehatan, pendidikan, perumahan, penyediaan makanan dan air, serta digunakan untuk kuburan. Contoh utama wakaf di era Mamluk ini adalah rumah sakit yang dibangun oleh al-Mansur Qalawun yang mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat Mesir selama beberapa abad.

Imam Teguh Saptono selaku Komisaris Global Wakaf Corporation juga sempat mengutarakan bahwa idealnya hasil dari aset wakaf produktif ini yang mendukung aset wakaf sosial berupa fasilitas publik. Seperti di masa kejayaan Baghdad pernah berdiri Rumah Sakit Al-Adudi.

“Di sana ceritanya satu rumah sakit itu di-backup oleh one village land of agriculture. Jadi satu rumah sakit itu di-backup oleh satu hamparan pertanian. Apa yang bisa dibuat oleh rumah sakit saat itu? Satu, tidak perlu membership. Dua, siapa yang sakit tidak ada biaya sedikit pun. Warga negara, bukan warga negara, ataupun musafir. Dan apabila mereka sembuh lalu ketahuan mereka prasejahtera, maka diberikan modal untuk berusaha,” cerita Imam pada acara Waqf Business Forum, awal Mei lalu.


Presiden ACT Ibnu Khajar sedang menyapa para ibu pengusaha ultra mikro dalam peluncuran program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI) pada bulan Juni lalu. (ACTNews/Reza Mardhani)

Indonesia dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, sebenarnya sangat berpotensi memanfaatkan instrumen wakaf. H.M. Cholil Nafis, M.A. dalam tulisannya berjudul “Wakaf Uang untuk Jaminan Sosial” di Jurnal Al-Awqaf pada tahun 2009 mengungkapkan, jika 1 juta saja masyarakat Indonesia bisa mengumpulkan Rp100 ribu dalam setiap bulan, maka akan terkumpul Rp1,2 triliun dalam setiap tahun.

“Jika diinvestasikan (diwakafkan secara produktif) dengan tingkat return 10% per tahun, maka akan diperoleh penambahan dana wakaf sebesar Rp10 miliar setiap bulan (Rp 120 miliar per tahun). Sungguh suatu potensi yang luar biasa,” tulis Cholil.

Untuk memaksimalkan potensi ini, Global Wakaf – ACT) juga terus menghadirkan program-program wakaf yang dapat memberdayakan masyarakat di tengah ekonomi yang sedang terancam. Salah satunya melalui program wakaf modal usaha, yang akan diluncurkan pekan ini.


Program wakaf modal usaha akan menyasar para pengusaha ultra mikro yang terus berjibaku menjalakan usahanya kendati terpukul oleh pandemi. Seperti Lastri salah satunya, seorang ibu pelaku usaha dari Nagarasari, Cipedes, Tasikmalaya.
Memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan kondisi pendapatan menurun dan suami yang di-PHK, Lastri mengakalinya dengan menggunakan uang yang seharusnya ia putar untuk modal dagang makanan kecil dan minuman di depan rumahnya. Akibatnya, di era kenormalan baru seperti sekarang ini, dagangannya tak lagi variatif. Bagi Lastri, sulit mengembalikan usaha seperti sedia kala karena modal yang telah berkurang.

Masuk era kenormalan baru, bagi Lastri, tak serta-merta membawa usaha skala kecilnya ini kembali ke keadaan normal seperti sebelum pandemi melanda. Usaha yang ia jalankan untuk membantu perekonomian keluarga itu saat ini masih terpuruk. Pasalnya, pembeli utama yang merupakan tetangganya pun ekonominya saat ini masih belum bangkit. Rata-rata mereka bekerja di sektor perdagangan yang ada di Kota Tasikmalaya yang juga ikut terdampak pandemi, sedangkan sebagian lagi di pertanian.

“Sekarang ini buat pedagang kecil kayak saya paling membutuhkan itu modal usaha,” jelas Lastri, pada Ahad (2/8) lalu. []