Respons Bahagia Warga Banjarbaru Sambut Sosialisasi Cuci Hidung

Kegiatan cuci hidung tersebut dilakukan guna mengurangi risiko dampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Respons Bahagia Warga Banjarbaru Sambut Sosialisasi Cuci Hidung' photo
Para siswa sedang mendapatkan sosialisasi cuci hidung dari tim MRI-ACT. (ACTNews/Hans)

ACTNews, BANJARBARU - Respons terhadap dampak asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan masih terus dilakukan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalimantan Selatan. Bagian dari Kota Banjarbaru yang terdampak paling parah menjadi wilayah sasaran program ini. Salah satunya warga sekolah di SD - SMP Plus Citra Madinatul Ilmi Banjarbaru yang mendapatkan sosialisasi cuci hidung pada Selasa (8/10) kemarin oleh tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)-ACT Kalimantan Selatan.

Koordinator Program ACT Kalimantan Selatan Muhammad Budi Rahman Wahid menerangkan, kegiatan cuci hidung tersebut dilakukan guna mengurangi risiko dampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“Dengan memberikan sosialiasi mencuci hidung ini, diharapkan para siswa bisa membersihkan, menyegarkan dan mencegah terjadinya infeksi saluran pernafasan akibat asap yang dihirup selama beberapa bulan terakhir,” ucap Budi.

Aksi cuci hidung menjadi sesuatu yang baru bagi warga sekolah. Awalnya, para siswa menganggap bahwa cuci hidung akan menyakitkan. Ketakutan itu malah berubah jadi rasa penasaran ketika siswa mendapatkan paparan dari para relawan. Bahkan ada yang ingin terus-menerus mencuci hidungnya, sehingga para siswa tampak berebut untuk merasakan cuci hidung. "Rasanya dingin, segar. Ini pertama kalinya ikut cuci hidung," ujar Balqis (12) siswi kelas tujuh.

Siswa mendapatkan masker serta amanah dari para mitra. (ACTNews/Lely Ria Purnama)

Arif Baitika Rahman (29) selaku Kepala Sekolah Citra Madinatul Ilmi mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia katanya sangat menantikan kunjungan ACT ini karena tidak pernah ada pembelajaran mengenai cuci hidung sebelumnya.

"Ini sangat bermanfaat karena sebagian dari kami tempat tinggalnya di Banjarbaru yang terkena kabut asap paling parah," papar Arif yang senang karena sebanyak 589 siswa dan guru menjadi penerima manfaat program kali ini.

Selain cuci hidung, tim juga mengadakan pembagian masker dan susu gratis kepada para siswa. Pembagian susu tersebut, kata Budi, dapat terlaksana berkat adanya dukungan dari mitra-mitra ACT dan para dermawan.

“Alhamdulillah kegiatan ini terlaksana karena dukungan dari Alifindo Mitra Bersama dan Frisian Flag Indonesia. Kami berterima kasih kepada para dermawan dan semoga membawa kebermanfaatan bagi semua pihak,” ungkap Budi.

Pada Senin (30/9) lalu, ACT Kalsel juga menyambangi SMP Negeri 15 Banjarbaru dengan aksi serupa. Sekolah yang berlokasi di Jalan Tegal Arum, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin ini, merupakan sekolah yang paling sering terdampak kabut asap akibat kebakaran lahan.

Bahkan sempat kebakaran itu hanya berjarak 3 meter dari ruang kelas yang berada di bagian belakang sekolah. Para siswa seringkali mengeluhkan kabut asap yang terjadi karena sangat menganggu aktivitas kegiatan belajar mereka di sekolah.

“Terkadang kalau asapnya sangat tebal hingga jarak pandang cuma sekitar 3 sampai 10 meter, sekolah langsung kami liburkan atau pulang lebih cepat,” tutur Faizah selaku Kepala Sekolah SMPN 15 Banjarbaru.

Faizah mengaku sangat senang dengan adanya program seperti ini. Bagi mereka yang sudah seringkali mengalami kabut asap, baru kali ini mendapatkan perhatian yang begitu luar biasa. Ia mengharapkan program ini dapat berjalan setiap tahunnya.

Kegiatan ini dilakukan akibat cukup banyak warga yang menderita ISPA karena kebakaran hutan beberapa waktu lalu. Berdasarkan data Dinkes Kota Banjarbaru, gangguan pernafasan atau ISPA di Banjarbaru mencapai 14.179 kasus hingga Agustus yang lalu. []

Bagikan

Terpopuler