Ribuan Desa di Jatim Terancam Kekeringan

Ribuan desa di Jawa Timur terancam kekeringan. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Sriyono, mengklasifikasikan wilayah kekeringan menjadi tiga, yaitu 699 desa kering kritis, 407 desa kering langka dan 199 desa kering terbatas.

Kekeringan
Seorang warga di Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, sedang memikul air bantuan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Solo. (ACTNews)

ACTNews, PACITAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menyebut 1.305 Desa di wilayahnya berpotensi dilanda kekeringan. Ribuan desa tersebut berada di 23 kabupaten diantaranya Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Lamongan, Lumajang. Selanjutnya Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Sumenep, Trenggalek dan Tuban.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Sriyono. Mewakili Plt Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Yanuar Rachmadi, mengklasifikasikannya menjadi tiga jenis kekeringan, yaitu 699 desa kering kritis, 407 desa kering langka dan 199 desa kering terbatas.

“Saat ini sudah ada tiga kabupaten yang bersurat ke kami meminta droping air bersih. Yaitu Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pasuruan. Sementara ini mereka masih pakai APBD kabupaten masing-masing untuk droping air bersih. Pemprov Jatim siap memback-up jika dibutuhkan,” katanya dilansir Suara.com pada Ahad, (7/11/2021).

Distribusi air bersih selama kemarau menjadi salah satu langkah dalam menghadapi kekeringan yang disebabkan oleh kemarau panjang. Antisipasi jangka panjang juga bisa dilakukan dengan cara membuat sumber air alternatif.

ACT melalui Global Wakaf sejak beberapa tahun lalu telah berikhtiar menghadirkan sumber air lewat program Sumur Wakaf. Moch Nurul Ramadhan dari tim Global Wakaf-ACT, mengatakan, ikhtiar mengadakan sumber air terus berlangsung dan menantikan dukungan dari dermawan.

“Siapapun bisa ambil peran dalam aksi kebaikan ini,” jelasnya