Ribuan Liter Air Terdistribusi untuk Kekeringan Kabupaten Semarang

Kekeringan di sejumlah desa di Kabupaten Semarang sudah terjadi sejak memasuki Agustus lalu. Salah satu faktornya karena kondisi alam dan geografis yang letaknya yang lebih tinggi dibanding desa lain.

humanity water tank
Salah satu titik pendistribusi air bersih ACT di Musala Baitul Ma'mur, Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN SEMARANG – Aksi Cepat Tanggap bersama Masyarakat Relawan Indonesia hingga kini telah mendistribusikan 48 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan di sejumlah titik di Kabupaten Semarang. Wilayah tersebut antara lain Desa Wiru dan Gogodalem yang berada di Kecamatan Bringin, Desa Polobogo, Kecamatan Getasan, hingga Desa Sukorejo dan Kedungringin, Kecamatan Suruh.

Kekeringan di sejumlah desa di Kabupaten Semarang sudah terjadi sejak memasuki Agustus lalu. Salah satu faktornya karena kondisi alam dan geografis yang letaknya yang lebih tinggi dibanding desa lain.

"Warga sudah mulai merasakan kesulitan air. Sumur-sumur di rumah warga dan sungai sudah mulai berkurang debitnya," jelas ucap Ketua MRI Kabupaten Semarang, Elvan Ardi, Rabu (15/9/2021).

Akibat kekeringan, warga kini mulai mencari air di sumber lainnya, sungai. Namun, semakin hari debit air sungai pun berkurang, bahkan airnya keruh dan tak layak konsumsi. Warga terpaksa pun mencari sumber air baru yang letaknya lebih jauh dari tempat tinggal mereka. Sehingga memerlukan peralatan dan biaya lebih.

"Warga mencari sumber air cukup jauh. Jadi perlu biaya tambahan untuk sampai ke sumber air. Kalau tak tak punya biaya, mereka terpaksa menunggu bantuan air yang datang,” tambah Elvan.


Air dari Humanity Water Tank yang dimasukan ke sumur sebagai penampungan di Kabupaten Semarang. (ACTNews).

Sementara itu, Kadus, warga Desa Sukorejo, Suruh, mengatakan, air yang sangat diperlukan ialah untuk konsumsi. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Air yang keluar dari mata air sudah mengalir melewati beberapa perkampungan, sehingga keruh dan kurang layak konsumsi.

Untuk mendapatkan air, warga telah mengusahakan berbagai cara. Tuminem (58) misalnya. Ia harus merogoh kocek. Air yang dibeli pun sangat cepat habis, sehingga dalam sebulan ia harus mengeluarkan uang rutin untuk membeli air.

Di Desa Polobogo, warga juga berikhtiar mendapatkan air. Mereka menggali sumur di tiga titik sampai kedalaman 13 meter. Sayang, usaha mereka belum membuahkan hasil, air belum juga muncul dari dalam tanah. “Musim kemarau ini buat air langka,” ungkap Tuminem.[]