Ribuan Pengungsi Suriah Menunggu di Batas Yordania

Ribuan Pengungsi Suriah Menunggu di Batas Yordania

ACTNews, DARAA – Rentetan rudal dan artileri berat lain yang dihempas dari langit Kota Daraa, Suriah sama sekali belum berakhir. Setelah Aleppo, lalu Ghouta Timur, satu pekan terakhir serangan brutal lain sedang menggempur wilayah Daraa. Sebuah wilayah di Selatan Suriah, dengan populasi lebih dari sejuta warga sipil.

Panggilan darurat kemanusiaan pun telah disuarakan oleh sejumlah aktivis dan grup kemanusiaan yang berbasis di Suriah. Hingga laporan ini diturunkan, sedikitnya sudah ada 200 jiwa warga Daraa tewas akibat rentetan serangan udara yang dihempas rezim Suriah.

Serangan fatal terakhir dilaporkan terjadi pada Jumat (29/6) kemarin. Jet tempur Rusia yang dijadikan senjata utama rezim Suriah, terbang rendah di atas langit Daraa. Dengan rudal dan artileri berat lain, serangan udara tak henti dilesatkan. Melansir laman CNN, bombardir hari Jumat itu menyebabkan 55 warga sipil dan 10  oposisi tewas.

Kabar duka lainnya, sehari sebelumnya Kamis (28/6), serangan udara dari rezim Suriah pun menyebabkan sedikitnya 16 anak-anak Daraa tewas.

Sementara itu, imbas rentetan serangan ke Daraa, tak hanya kabar jumlah korban tewas yang menjadi ketakutan dunia. Perwakilan PBB untuk Suriah, De Mistrura menegaskan, krisis kemanusiaan di Daraa akan semakin mengkhawatirkan ketika laju deras pengungsi asal Daraa tak ada yang bisa menampung.

Rudi Purnomo dari Tim Global Humanity Response ACT mengatakan, Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus berkomunikasi dengan pihak mitra di Suriah, menimbang berbagai peluang paling aman untuk mengirim bantuan masuk ke Daraa.

 

“Daraa saat ini sedang berada pada fase darurat dan sangat berbahaya. Distribusi bantuan sangat diperlukan. Tetapi mitra kami di dalam Suriah mengabarkan bahwa situasinya masih sangat tidak pasti. Kabar terbaru terus kami tunggu dari dalam Daraa sampai pihak-pihak mitra di Daraa memastikan keadaan cukup aman untuk mempekerjakan relawan dan mendistribusikan bantuan,” tegas Rudi Purnomo.

Fokus utama memenuhi kebutuhan pengungsi asal Daraa, Rudi menjelaskan kebutuhan dasar yang paling dibutuhkan pengungsi saat ini adalah tenda, selimut, dan paket logistik.

Menunggu di perbatasan Yordania

Satu pekan digempur dalam serangan fatal, mobil-mobil bak terbuka melaju berderet dari dalam Kota Daraa. Muatannya penuh, kebanyakan diisi anak-anak hingga ibu-ibu. Selain mengangkut satu keluarga, mobil bak terbuka itu berjubel barang-barang rumah yang bisa diangkut. Semua ditumpuk tak beraturan di dalam bak mobil. Kasur, baju, kursi sampai lemari, apapun diangkut yang masih bisa diselamatkan.

Mereka berpindah, mereka mengungsi. Bombardir berlanjut di atas Daraa, berarti rumah di Daraa sudah tak lagi mungkin untuk ditinggali.

Melansir CNN, sejumlah aktivis kemanusiaan di Daraa berkata, sejak serangan menggempur pemukiman sipil di Daraa, ada lebih dari 120.000 jiwa warga sipil asal Daraa yang mengungsi. Melaju tanpa arah, kebanyakan menuju ke perbatasan Yordania.

Dari atas peta, jarak dari tengah Kota Daraa menuju ke gerbang perbatasan Yordania sangat dekat, hanya terpaut 13 kilometer. Sementara jarak dari Kota Daraa menuju ke Amman, ibu kota Yordania, tak lebih dari 107 kilometer. Namun, ratusan ribu pengungsi diperkirakan hanya bisa menunggu, pasalnya gerbang perbatasan Yordania tak lagi dibuka.

Yordania, negeri yang berbatasan langsung dengan Suriah kini telah dihuni lebih dari 1,3 juta pengungsi asal Suriah. Namun, dengan alasan keamanan dalam negeri dan keterbatasan sumber daya, Yordania dilaporkan menutup perbatasannya untuk pengungsi Suriah asal Daraa.

Laporan dari mitra ACT di dalam Suriah, laju puluhan ribu pengungsi sedang bergerak masif di sekitar wilayah perbatasaan. “Seperti wilayah wilayah Zir'ib, Tel'i Sihab, dan desa Nawa yang dekat dengan wilayah Yordania,” ujar Rudi pasca berkorespondensi dengan mitra ACT di dalam Suriah.

Mengutip kembali CNN, seorang pengungsi asal Desa Nawa, Saqer Al-Mohammad (21) bercerita bahwa Ia kini hanya bisa menunggu berminggu-minggu di perbatasan Bukit Golan, perbatasan antara Suriah, Israel, dan Yordania.

“Kami memilih lari dari rumah kami di Daraa. Bom dan serangan udara tak pernah berhenti. Setiap hari adalah hari yang menakutkan di Nawa. Situasi sedang berubah sangat buruk. Kami sudah berada di perbatasan lebih daru seminggu. Tanpa bantuan, tanpa air, tanpa makanan,” ujar Saqer. []

Tag

Belum ada tag sama sekali