Ribuan Warga Sigi Mengungsi akibat Banjir dan Longsor

Sekitar 500 rumah masih terbenam lumpur, sehingga tidak memungkinkan untuk ditinggali sementara.

ACTNews, SIGI - Sebanyak 551 keluarga atau 2.259 jiwa tercatat masih mengungsi pascabencana banjir yang menerjang Kabupaten Sigi pada Sabtu (27/4) lalu, tepatnya di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan. Diduga banjir bandang ini akibat dari kerusakan hutan yang ada di bagian hulu sungai. Banjir disertai lumpur menggenang hingga ke atap rumah warga dengan ketinggian lebih dari dua meter.


Hingga Kamis (3/5), tim Disaster Emergency Response - Aksi Cepat Tanggap (DER - ACT) telah mendirikan dua titik posko di Desa Bangga, yakni di Desa Bangga dusun 2 dan Desa Bangga dusun 3. Sesaat setelah banjir terjadi, tim langsung mengirimkan relawan untuk melakukan asesmen serta mendistribusikan bantuan logistik.


“Termasuk saya itu turun langsung ke posko Bangga 1 dan relawan lain turun ke posko Bangga 2 untuk asesment. Sekarang 2 posko ini sudah support bantuan logistik untuk masyarakat. Jadi ada bantuan paket pangan yang sudah kita bagikan ke masyarakat,” tutur Mustafa selaku Koordinator Program ACT Sulawesi Tengah.




Tim medis juga telah diturunkan di lokasi terdampak untuk memberikan pelayanan kesehatan. Tim turun ke posko-posko pengungsian untuk memeriksa kondisi kesehatan para pengungsi.


Mustafa menjelaskan, ke depannya tim akan melebur kedua posko ini menjadi satu posko, karena mereka akan memfokuskan aksi kepada penanganan banjir. Penyatuan posko juga melihat dari kondisi rumah warga yang menurut Mustafa, akan butuh lama untuk benar-benar pulih kembali.


“Masyarakat akan butuh waktu lama untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan mereka akan tinggal di pengungsian. Mereka pasti akan butuh bantuan dari kita dan kita betul-betul akan memberikan bantuan, baik paket pangan maupun sandang. Nah, inilah fokus kita selama beberapa minggu ke depan,” jelas Mustafa.


Tak sempat selamatkan apapun




Sambil berjalan-jalan di sekitar rumahnya yang setengahnya telah terbenam lumpur, Kadir, salah satu warga yang mengungsi, menceritakan kronologis keadaan keluarganya sebelum banjir merendam rumahnya. Kata Kadir, rumah keluarganya sudah terendam lumpur selama tiga jam, bahkan sebelum hujan deras mengguyur. Kondisi ini akibat rumah Kadir dekat hulu sungai. Setelah lumpur menggenang rata di seluruh rumah warga, hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir yang merendam rumah-rumah warga.


“Banjir itu menyapu semuanya, kita naik ke atas atap. Sekitar 80 orang ada barangkali. Semua orang naik ke atas bumbungan (atap rumah) masing-masing,” ujar Kadir.


Banjir yang datang tiba-tiba, membuat Kadir tak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Hal ini karena banjir yang datang begitu mendadak saat itu.


“Televisi, alat-alat dapur, kursi, lemari, semua pokoknya perabot itu tidak ada yang bisa diambil lagi. Hanya baju di badan ini sekarang yang kami punya. Meskipun begitu keluarga alhamdulillah, selamat semua,” kata Kadir. []