Risiko Minimnya Sanitasi di Afrika Seharga Nyawa

Akses terhadap air bersih dan sanitasi di Afrika sangat minim dan tak jarang tercemar. Hal ini memuculkan beberapa masalah, termasuk masalah kesehatan. Bahkan sampai menyebabkan kematian.

Risiko Minimnya Sanitasi di Afrika Seharga Nyawa' photo
Seorang wanita Sudan mengisi botol air yang dipegang oleh seorang anak laki-laki sekitar 60 kilometer di utara El-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara, pada 9 Februari 2017. (Foto: Ashraf Shazly / AFP via Getty Images)

ACTNews, JAKARTA – Secara global, 785 juta orang tidak memiliki air bersih yang dekat dengan rumahnya. Bahkan banyak di antara mereka harus berjalan selama setengah jam untuk menemukan air yang layak minum. Dan ketika krisis iklim mulai terjadi, kondisi ini semakin parah. Laporan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2017 itu juga mengatakan bahwa 2 miliar orang masih kekurangan sanitasi dasar. Sebanyak 7 dari 10 tinggal di pedesaan dan sepertiganya tinggal di negara-negara kurang berkembang.

Wilayah itu di antaranya adalah Afrika. Di Afrika, tak sampai satu dari tiga orang memiliki akses sistem drainase yang baik, dengan hanya 63% warga memiliki akses air bersih. Penelitian dari Afrobarometer pada tahun 2014 – 2015 itu juga mengungkap hanya 30% warga yang memiliki akses pembuangan kotoran.

“Afrika sendiri sebenarnya bisa dibilang tanah yang subur. Hanya memang akses terhadap pelayanan air bersih, sanitasi, dan MCK itu sangat-sangat kurang. Terakhir saya ke Uganda dan Somalia, saya bisa melihat langsung bagaimana kayak penyakit kolera karena memang tidak adanya akses air bersih,” ujar Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jumat (4/12).

Sebagai contoh, Somalia. Tanpa akses ke air bersih, toilet dan sanitasi yang baik, risiko tertular penyakit, seperti diare, diare berair akut, kolera, dan infeksi pernapasan menjadi cukup tinggi. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 900 orang di Somalia, telah meninggal karena kolera dan mayoritas dari mereka adalah anak di bawah usia 5 tahun. Ketika perempuan melahirkan dalam kondisi yang seperti ini, kehidupan para ibu dan bayi juga dipertaruhkan.


Seorang perempuan mengumpulkan air untuk digunakan di rumah mereka di kamp IDP Bakassi, di Maiduguri, ibukota negara bagian Borno di Nigeria timur laut. (UNICEF/Abubakar)

“Dan ini rentan banget, karena memang sumber air mereka hanya genangan air bekas hujan yang bisa bertahan 1-2 minggu. Dan itu kan air yang tidak mengalir. Kondisi ini terjadi juga di Ghana, Mali, Uganda,” kata Faradiba.

Air permukaan ini memang seringkali tercemar. Air yang tercemar dan sanitasi yang buruk terkait dengan penularan penyakit seperti kolera, diare, disentri, hepatitis A, tifus, dan polio. Layanan air dan sanitasi yang tidak ada, tidak memadai, atau dikelola secara tidak tepat membuat individu rentan terhadap risiko kesehatan yang dapat dicegah. Hal ini terutama terjadi di fasilitas perawatan kesehatan di mana pasien dan staf ditempatkan pada risiko tambahan infeksi dan penyakit ketika air, sanitasi, dan layanan kebersihan kurang.


Ikhtiar untuk memutus kesulitan itulah yang hendak ditempuh ACT bersama Global Wakaf melalui Sumur Wakaf. Saat ini Sumur Wakaf mengalami peningkatan jumlah dibandingkan dua tahun lalu. Belasan Sumur Wakaf dibangun pada tahun ini di 5 negara Afrika dan sampai akhir tahun ini pun masih ada yang berproses.

“Kita ingin kebermanfaatan yang kita berikan itu seluas-luasnya. Kita tidak ingin cuma beberapa negara. Kita ingin kalau perlu seluruh negara Afrika yang masih memiliki kesenjangan privilege untuk pengaksesan air bersih itu kita berada di sana, memberi jawaban, memberi bantuan, khususnya Sumur Wakaf,” harap Faradiba. []