Rizal Mencoba Bangkit Lewat Usaha Kue Bangkit

Badai pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh Rizal, pengusaha skala kecil asal Batam. Sekarang, ia tengah mencoba bertahan dengan produk Kue Bangkit Khas Melayu. Usaha Rizal mendapat pendampingan dari Melayu Dermawan-ACT.

Rizal memamerkan produk kue bangkit atau dikenal juga sebagai kue lampam yang telah dikemas menarik untuk oleh-oleh. Sejak 2018 ia memproduksi kue khas Melayu tersebut. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BATAM – Sejak 1999, Rizaldi, warga Kavling Sagulung Baru, Sungai Binti, Sagulung, Kota Batam sudah memulai usaha kecil. Berawal dari produk opak dan peyek yang dipasarkan di tempat kerjanya, kemudian Rizal mencoba fokus sebagai pengusaha. Ditemani sang istri, laki-laki asal Sumatra Barat ini selanjutnya memproduksi bakso goreng yang dijajakan di sekolah-sekolah. Usaha ini lah yang kemudian panjang umur hingga mampu menghidupi perekonomian keluarga.

Setiap hari, 300 tusuk bakso goreng yang dihargai seribu rupiah per tusuk berhasil Rizal jual. Rizal menjualnya di area sekolah. “Saya jual itu bakso goreng dengan saos, rasanya enak, anak-anak suka dan harganya terjangkau,” ujar ayah dua anak itu saat tim ACTNews berkunjung ke rumahnya, Sabtu (20/3/2021).

Dari hasil usahanya tersebut, Rizal mengaku bisa memenuhi kebutuhan harian keluarga. Ia pun bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Namun, pandemi Covid-19 membuat seluruh aktivitas masyarakat terhenti, termasuk kegiatan belajar, penghasilan Rizal turun drastis. Ia pun sempat ingin kembali ke kampung halaman karena usahanya diambang kebangkrutan.


Kue kebangkitan

Di samping produksi dan menjajakan bakso goreng, Rizal juga memiliki produk lainnya, yaitu Kue Bangkit Khas Melayu atau lebih tenar dengan sebutan Kue Lampam. Makanan berbahan terigu dengan bertekstur lembut ini lebih nikmat sebagai teman minum teh ataupun kopi. Sejak 2018, Rizal bersama istri mencoba menjajakan kue lampam dengan resep dari orang tua. Namun, penjualan belum maksimal, dalam sebulan paling tidak hanya laku 40 pak. 

“Kue lampam ini saya titip ke warung-warung, tapi hasilnya belum maksimal,” kenang Rizal.


Bersama sang Istri, Rizal memproduksi kue lampam di rumahnya di kavling Sagulung Baru, Sungai Binti, Kota Batam. Usaha rumah ini masih berskala kecil dengan peralatan dan modal terbatas. (ACTNews/Eko Ramdani)

Lain dulu lain sekarang. Dalam satu bulan, sekarang Rizal bisa menjual hingga seribu bahkan pernah dua ribu buah lampam. Ia mengatakan, setelah mendapatkan pendampingan dari Melayu Dermawan-ACT, ia memperoleh kenaikan pesat pada penjualannya.

“Banyak yang didapat dari pendampingan Melayu Dermawan dan ACT. Mulai perhitungan dan pencatatan dalam usaha, inovasi, tampilan produk hingga pemasaran,” jelas Rizal.

Produk lampam yang Rizal beri merek Marru Kirama ini kini tampil lebih menarik dan layak untuk dijadikan oleh-oleh. Varian rasanya pun beragam. Begitu juga pemasaran yang meluas dan telah masuk ke warung-warung kopi yang banyak tersebar di Batam.

“Sekarang, hambatannya ada di peralatan. Produk saya sudah dibawa ke Malaysia sebagai contoh, nanti kalau ada pesanan yang lebih banyak mungkin akan kesulitan karena alat dan modal masih terbatas,” tambah Rizal[]