Rohingya Berkabung, Mohib Ullah Meninggal di Kamp Kutupalong

Pengungsi Rohingya di Bangladesh kehilangan sosok pemimpin dan pembelanya. Mohib Ullah, aktivis yang kerap memperjuangkan hak-hak Rohingya di dunia internasional, dinyatakan meninggal pada Rabu (29/9/2021) di Kamp Kutopalong.

mohib ullah rohingya
Aktivis sekaligus pemimpin dan pembela pengungsi Rohingya di Bangladesh, Mohib Ullah. (AFP/Munir Uz Zaman)

ACTNews, COX'S BAZAR – Mohib Ullah (48) biasa berkeliling di wilayah Cox’s Bazar. Ia mengunjungi satu persatu tenda milik para pengungsi Rohingya untuk melakukan hal sederhana, menanyakan kabar dan kebutuhan para pengungsi.

Ullah merupakan aktivis terkemuka yang memimpin dan membela ratusan ribu pengungsi Rohingya untuk memperoleh hak-hak asasinya. Ullah pernah mewakili komunitas Rohingya di Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada 2019. Ia datang ke Gedung Putih untuk menuntut kesejahteraan pengungsi Rohingya, khususnya yang berada di Bangladesh.

Namun, ikhtiar Ullah terhenti pada Rabu (29/9/2021) malam. Ia meninggal ditembak oleh orang tidak dikenal di kantornya di Kamp Kutupalong. Kematiannya membuat para pengungsi Rohingya berkabung. Mereka kehilangan sosok pemimpin dan pembela kesejahteraan mereka.

Saad Hammadi, Juru Kampanye Asia Selatan Amnesty International menyatakan bahwa kematian Ullah merupakan bukti adanya krisis keamanan di Cox’s Bazar. Ia mendorong pihak berwenang untuk menyelidiki kematian Ullah, dan berbenah untuk memastikan keamanan hidup para pengungsi.

“Mohib Ullah adalah perwakilan terkemuka komunitas Rohingya, yang berbicara menentang kekerasan di kamp-kamp, mendukung hak asasi manusia dan perlindungan pengungsi. Pembunuhannya menyebabkan efek mengerikan bagi para pengungsi Rohingya. Kami meminta pihak berwenang untuk bekerja sama memastikan perlindungan orang-orang di kamp-kamp, ​​termasuk pengungsi dan aktivis masyarakat sipil," ujar Hammadi dalam sebuah pernyataan.

Dalam sebuah wawancara dengan Ullah yang direkam pada tahun 2019, Ullah menceritakan bahwa ia sadar betul pekerjaannya tidak mudah, dan selalu ada ancaman yang datang. "Jika saya mati, saya baik-baik saja. Saya akan memberikan hidup saya," katanya saat itu.

Ada ratusan ribu pengungsi Rohingya yang bermukim di Cox’s Bazar, Bangladesh. Kamp di Kutupalong menjadi yang terbesar. Di sana, para pengungsi telah lama hidup dalam krisis kemanusiaan yang parah. Dari mulai sulit mendapat akses kesehatan yang layak, hingga tingginya kasus kerawanan pangan, menjadi problem yang dihadapi para pengungsi tiap hari.[]