Rohingya di Buthidaung Terkungkung Pertempuran

Rohingya di Buthidaung Terkungkung Pertempuran

Rohingya di Buthidaung Terkungkung Pertempuran' photo

ACTNews, BUTHIDAUNG - Negara Bagian Rakhine yang terletak di sebelah Myanmar telah menjadi perhatian masyarakat Internasional sejak 2017 silam. Kala itu, penumpasan yang dilakukan oleh militer Myanmar memaksa sekitar 730.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Hingga sekarang, pertempuran masih sering terjadi di Rakhine. Melansir Reuters, insiden terbaru terjadi di Kota Buthidaung, tepatnya dekat sebuah desa bernama Kin Taung, rumah bagi keluarga Muslim Rohingya yang masih memilih tinggal dan bertahan di dalam Rakhine, Myanmar.

“Serangan udara militer itu telah menewaskan penduduk sipil, termasuk warga kami. Sekarang, warga desa kami tidak berani keluar karena ketakutan,” kata Zaw Kir Ahmed, tokoh masyarakat Desa Kin Taung, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Sementara Rashid Ahmed, seorang buruh, mengatakan kakak laki-laki, paman, dan keponakannya turut menjadi korban penembakan saat sedang bekerja di Lembah Sai Din. “Pasukan militer menembak mereka dari ketinggian helikopter yang sedang terbang,” katanya.

Al Jazeera dalam rilisnya mengungkapkan, sebenarnya pertempuran terjadi antara militer Myanmar yang memerangi kelompok bersenjata lain, Angkatan Darat Arakan, yang merekrut sebagian besar orang dari populasi etnis Rakhine.

Juru Bicara untuk Komisaris Tinggi PBB urusan Hak Asasi Manusia (HAM) Ravina Shamdasani menyuarakan keprihatinan terhadap serangan yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Seluruhnya adalah warga sipil, termasuk Muslim Rohingya yang tinggal di Kota Buthidaung.

“Ada laporan yang dapat dipercaya tentang pembunuhan warga sipil, pembakaran rumah tanpa pandang bulu di daerah sipil, penangkapan sewenang-wenang, penculikan, juga upaya merusak properti budaya di Negara Bagian Rakhine,” kata Ravina.

Berdasarkan sumber-sumber dari lapangan, Ravina pun menyimpulkan setidaknya ada tujuh orang yang meninggal dunia pada tragedi Jumat (5/4), kala dua helikopter milik militer Myanmar terbang di atas Kota Buthidaung Selatan dan menembaki warga yang sedang bertani dan beternak.

Menyapa Muslim Rohingya di Buthidaung

Lebih kurang tiga tahun, Muslim Rohingya terkungkung pertempuran di tanah kelahiran mereka sendiri, Negara Bagian Rakhine. Pertempuran menyebabkan pemblokiran wilayah yang berujung sejumlah Muslim Rohingya kesulitan mengakses bahan pokok untuk keperluan sehari-hari.

Dalam waktu dekat, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berencana untuk menyapa Muslim Rohingya yang tinggal di Kota Buthidaung. Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response ACT menjelaskan, setelah membagikan paket pangan di Rathedaung pada Maret lalu, ACT juga akan membagikan paket pangan di Buthidaung.

“Insya Allah, distribusi untuk Muslim Rohingya di Buthidaung, Myanmar akan dilaksanakan pada periode bulan April ini,” pungkas Faradiba. []

Sumber foto: Dok.ACT, Reuters

Bagikan