Rohingya: Hanya Ada Daging Setahun Sekali

Iduladha tahun lalu, Global Qurban - ACT menembus wilayah Rathedaung, mengantarkan daging kurban kepada etnis Rohingya.

Rohingya: Hanya Ada Daging Setahun Sekali' photo
Warga Rohingya di Myanmar memasak bantuan pangan yang mereka terima dari dermawan Indonesia melalui Aksi Cepat Tanggap. (ACTNews)

ACTNews, RATHEDAUNG – Hanya ada perayaan Iduladha sederhana di Desa Sin Kon Daing, Rathedaung, Rakhine Utara. Usai salat Iduladha berjamaah di tanah lapang, tidak ada hidangan mewah yang tersaji di dapur rumah para warga. Sin Kon Daing adalah salah satu desa tempat etnis Rohingya bermukim. Setiap hari, kenyataan yang ada adalah ratusan keluarga harus bertahan dari kekurangan bahan makanan.

Muhamad Siras (44), warga Desa Sin Kon Daing kepala keluarga dari sembilan anggota, mengaku tidak pernah membeli daging untuk anak-anaknya. Isolasi yang ketat atas wilayah tempat tinggalnya membuat warga Sin Kon Daing tidak dapat bergerak bebas, bahkan untuk mencari nafkah.

“Daging kurban yang didistribusikan ACT sangat membantu dan bermanfaat untuk keluarga kami. Anak-anak bisa menikmati daging. Kami terus berdoa agar Allah senantiasa memberkahi para dermawan,” kata Siras kepada mitra Global Qurban - ACT di Ruthedaung pada Iduladha 2019.


Pengungsi Rohingya di Rakhine santap bersama dalam momen distribusi pangan iftar Ramadan lalu. Etnis Rohingya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dasar, termasuk pangan. (ACTNews)

Ungkapan terima kasih juga disampaikan Mabiya Hatu (35), seorang ibu rumah tangga di Desa Sin Kon Daing dengan 5 orang anggota keluarga. Ia mengaku biasa memotong ayam di hari raya Iduladha, namun kala itu tidak bisa dilakukan karena mereka tidak memiliki cukup uang. Empat anggota keluarganya adalah perempuan di bawah 18 tahun, belum ada yang bisa diandalkan mencari nafkah di tengah represi dan isolasi.

“Hari ini kami menerima daging dari Global Qurban - ACT, terima kasih tidak terhingga kami sampaikan kepada para donatur. Mungkin tidak ada kata-kata yang bisa mewakili rasa syukur kami. Kami juga berterima kasih atas bantuan kemanusiaan yang kami terima,” kata Hatu.

Mitra ACT di Ratheduang Myo Win menggambarkan betapa kesulitan harus dihadapi etnis Rohingya yang amat dibatasi geraknya. “Daging hanya dikonsumsi sesekali. Bisa jadi sekali dalam enam bulan sampai setahun sekali,” lapor Myo Win.

Jangankan daging, lanjut Myo Win, untuk makanan pokok nasi pun mereka tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan. Lahan persawahan di desa mereka berasal sudah mereka tinggalkan karena harus berpindah untuk mencari tempat yang lebih aman.

Membantu pengungsi Rohingya memenuhi kebutuhan pangan senantiasa diikhtiarkan Global Qurban - ACT. Puluhan hewan kurban di Myanmar pada Iduladha 2019 lalu dinikmati hampir 6.000 orang etnis Rohingya yang berada di Rakhine. Mereka tersebar di desa-desa yang terisolasi dan kamp-kamp pengungsian.

Firdaus Guritno dari Tim Global Qurban - ACT menjelaskan, tahun ini kurban untuk Rohingya diikhtiarkan. “Bersama kita antarkan kebahagiaan kembali pada Iduladha tahun ini. Insyaallah, daging kurban akan menyapa pengungsi Rohingya di Bangladesh dan Myanmar,” terang Firdaus, Kamis (23/7).

Hingga saat ini, PBB menyebut etnis Rohingya sebagai etnis paling menderita. Tidak diakui negaranya, ratusan ribu Rohingya melintasi daratan dan menyeberangi lautan untuk mencari penghidupan yang lebih baik.[]