Rohingya: Lebih Baik Wafat daripada Kembali Ke Myanmar

Rohingya: Lebih Baik Wafat daripada Kembali Ke Myanmar

Rohingya: Lebih Baik Wafat daripada Kembali Ke Myanmar' photo

ACTNews, HYDERABAD - Keadaan yang tidak aman di tanahnya sendiri, di Myanmar, membuat masyarakat Rohingya memilih eksodus. Mereka menyebar, pergi  jauh mencari keamanan, termasuk ke negara tetangga di sekitar Myanmar. Jalur darat dan laut dicoba, demi mendapatkan perlindungan. 

India menjadi salah satu negara tujuan etnis Rohingya eksodus. Tanah “Tajmahal” ini awalnya dianggap aman bagi etnis Rohingya tenang melanjutkan kehidupan. Diperkirakan 40 ribu orang Rohingya menjadikan India sebagai pilihan tempat hidup. Eksodus terjadi tak hanya dalam sekali waktu. Setiap tahunnya ada Rohingya yang lari karena persekusi di Myanmar, sebagiannya masuk ke India. Sedangkan menurut badan PBB yang mengurus pengungsi, UNHCR, 18 ribu di antaranya terdaftar sebagai pengungsi dan pencari suaka di India.

Hosain namanya. Dilansir dari laman Aljazeera, ia memasuki wilayah India dengan melewati perbatasan Myanmar lalu menuju Bangladesh dan terus ke timur hingga bertemu perbatasan India. “Kehidupan di Hyderabad (India) tidaklah buruk dibandingkan di Rakhine, Myanmar,” tuturnya Oktober 2018 lalu.

Sejak 2014 lalu, Hosain bersama keluarganya menetap di India. Mereka melarikan diri dari Rakhine di Burma (Myanmar) pascakekerasan yang terjadi terhadap etnis muslim Rohingya oleh pihak keamanan Myanmar. Dengan dalih melawan terorisme, tindakan kekerasan terus berlangsung sepanjang tahun kepada ratusan ribu warga Rohingya. Puncaknya, 2017 silam kala nyaris sejuta jiwa warga Rohingya meninggalkan desa-desa mereka di Rakhine, Myanmar. 

Rohingya kembali terusir

Namun, rasa tenang Rohingya mendiami India mulai terganggu. Oktober 2018 lalu, saluran televisi India menayangkan berita tujuh orang Rohingya dideportasi, kembali ke negara asalnya, Myanmar. Rasa khawatir itu juga mulai menyeruak ke 40 ribu lebih pengungsi Rohingya di India.

Jafar Alam yang juga pengungsi Rohingya yang menetap di Ibu Kota, New Delhi, menuturkan, Oktober lalu ia didatangi polisi setempat. Mereka memaksa Alam untuk mengisi formulir setebal enam lembar. Formulir itu berisikan data pribadi.

“Kami sudah mengatakan kepada polisi itu bahwa tidak akan menyerahkan data diri kami kepada mereka. Pemerintah India akan menyerahkan formulir ini kepada Kedutaan Myanmar untuk India yang kemudian akan diadakan deportasi secara paksa,” tutur Alam seperti dilansir dari Aljazeera.

Rasa takut dideportasi paksa kembali ke Myanmar menghantui etnis Rohingya yang ada di India sejak Oktober 2018 lalu. Tapi mereka sama sekali tidak ingin kembali ke tanah mereka sendiri. Penyiksaan dan hilangnya hak hidup menjadi alasan utama. “Lebih baik wafat di India daripada kembali ke Myanmar,” tegas Alam.

Tindakan India ini pun akhirnya menarik perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk angkat bicara. Mereka (PBB) melalui pakar hak asasi manusianya E. Tendayi Achiume mengutuk tindakan pemerintah India yang melakukan deportasi etnis Rohingya. “Memaksa orang Rohingya kembali ke tanah asalnya dapat menjadi pelanggaran, itu merupakan sebuah kejahatan di bawah hukum internasional,” ucap Tendayi seperti dilansir dari laman The Washington Post.

Masih menurut PBB, Pemerintah India memiliki kewajiban untuk melindungi etnis Rohingya. Hal ini berada di bawah hukum internasional untuk memberikan perlindungan yang diperlukan kepada pihak yang mendapatkan diskriminasi serta pelanggaran berat dari negara asalnya.

Hingga hari ini, etnis Rohingya masih disebut-sebut sebagai etnis paling teraniaya di dunia. Pengusiran demi pengusiran yang mulai dilakukan oleh komunitas di India menjadi satu lagi bukti pahit bahwa etnis Rohingya yang mayoritasnya adalah Muslim masih terlantar nasibnya.

Kini, orang-orang Rohingya masih terus melakukan eksodus di beberapa negara di sekitar Myanmar untuk mencari perlindungan. Di Bangladesh, pada 2017 silam saja telah masuk dari Myanmar lebih dari 700 ribu orang etnis Rohingya.  []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan